Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman

12 Juni 2010

OSTEOSARKOMA

A.Konsep Dasar Penyakit

1. Pengertian
Osteosarkoma adalah tumor yang berasal dari sel mesenkim yang
ditandai dengan differensiasi osteo balstik dari sel neoplasma (Robbins and Kummar. 458.1995). Jenis maligna terbanyak dari tumor tulang yang berjumlah kira-kira 20% dari semua kasus (Ghale and Charlotte. 2000).

2. Etiologi
Etiologi dari osteosarkoma masih belum diketahui tetapi radiasi dan
virus onkogenik yang telah terlibat dalam terjadinya keganasan serta faktor genetik.

3. Patofisiologi
Kebanyakan osteosarkoma dijumpai pada kelompok usia muda antara 10-25 tahun. Kemudian sering menyerang pada daerah ujung metafisis ulang panjang seperti :
 Ujung distal tulang femur
 Ujung proximal tibial
 Ujung proximal humerus
 Ujung proximal femur
 Untuk tulang kering yang sering diserang adalah illium


pathway
Tumor

Mengganti jaringan metafisis

Adanya erosi kortex dan jaringan lunak

Kavum medula digantikan oleh tumor

Lapisan permukaan tulang

Periosteum dan kortex terpisah

Klasifikasi dan menciptakan segitiga codman


4. Tanda dan Gejala
• Timbul rasa nyeri, tumpul dalam dan perasaan seperti dilakukan pemboran pada tulang.
• Terang atau pembengkakan pada tulang atau persendian.
• Nyeri dada
• Batuk
• Demam
• Berat badan menurun
• Malaise

5. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang antara lain:
- Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi tulang
- Pemeriksaan radidensitas menyatakan adanya pembentukan tulang baru
- Metode radigrafi dapat digunakan untuk menilai tumor tulang malignan yang meliputi radigrafi, scan tulang, arteriologi, computer tomografi, fluoroscopi, MRI
- Biopsi merupakan hal yang vital dalam menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan insisi, eksisi, biopsi jarum, dan lesi-lesi yang dicurigai

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat di
diagnosis. Tujuan panatalaksanaan secara umum meliputi pembuangan tumor, penghindaran amputasi kalau memungkinkan, pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi: pembedahan, kemoterapi, radioterapi, bioterapi, atau terapi kombinasi, pemberian analgesik, tranquelizer, diet, imobilisasi anggota tubuh yang sakit.

7. Prognosa
Dahulu prognosa dari osteosarkoma jelek yaitu dengan kelangsungan
hidup selama 5 tahun sebesar 10-20% dengan metastase. Sedangkan pada saat ini prognosa dengan metastase adalah 40% kehidupan selama 5 tahun.















B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
- Nyeri diatas area yang sakit dari ekstremitas, khususnya pada malam hari.
- Keterbatasan penggunaan ekstremitas
- Anoreksia
- Penurunan berat badan
- Kelelahan
- Pembengkakan local dengan atau tanpa trauma
- Peningkatan suhu kulit diatas area yang dipengaruhi
- Peningkatan suhu


2. Diagnosa Keperawatan

1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosis kanker dan prognosa yang tidak pasti.

o Kriteria hasil
Ansietas, kekhawatiran dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan.

• Intervensi keperawatan
a. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan suatu suasana lingkungan yang dapat diterima.
R/ Membantu pasien dalam membangun kepercayaan pada tenaga kesehatan.

b. Evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan.
R/ Membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan.

c. Dorong sikap harapan yang realistis.
R/ Meningkatkan kedamaian diri.

d. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai.
R/ Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan.

e. Klasifikasi persepsi pasien tentang proses penyakit, pengobatan.
R/ Membantu dalam memahami informasi yang penting dan menghilangkan mitos.

f. Jawab pertanyaan pasien atau bantu mereka dalam mendapatkan informasi.
R/ Menemukan kebutuhan penyuluhan pasien mungkin dapat membantu dalam koping.

g. Dorong untuk bersikap asertif dalam mencari informasi.
R/ Untuk menemukan kebutuhan pasien.


2. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pengobatan kemoterapi berkaitan dengan destruksi secara cepat pembelahan sel hematopoetik normal yang mengakibatkan immunosupresi.

o Kriteria hasil
Penurunan potensial infeksi.

• Intervensi keperawatan
a. Pantau infeksi sistemik atau lokal infeksi.
R/ Kekurangan neutropil selama granulositopenia menghambat kemampuan untuk melawan infeksi dan dapat menutupi munculnya tanda-tanda infeksi.

b. Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam dan lebih sering jika diperlukan.
R/ Demam atau hipertermia mungkin mengindikasikan munculnya infeksi pada pasien granulositopetik.

c. Kaji semua daerah prosedur invasif terhadap kemungkinan adanya tanda infeksi.
R/ Membantu mengidentifikasikan komplikasi.

d. Kaji kemungkinan adanya kerusakan kulit dan permukaan mukosa.
R/ Kulit dan membran mukosa memberikan jalan pertama dari pertahanan terhadap mikroorganisme.

e. Laporkan demam diatas 37,70 C dengan segera.
R/ Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan jumlah sel darah putih yang rendah mungkin hanya merupakan tanda infeksi pasien.

f. Mulai terapi antibiotik dengan segera setelah diperoleh kultur yang perlu.
R/ Pasien dapat mengalami sepsis dalam waktu 12 jam demam tinggi jika tidak diobati dengan antibiotik.

g. Bantu pasien mengenai kebersihan diri meliputi: mandi, kebersihan mulut dan perawatan perineal.
R/ Menurunkan kehadiran organisme endogen.

h. Anjurkan istirahat sesuai kebutuhan
R/ Keletihan dapat menekan sistem imun tubuh.

i. Ganti semua balutan setiap hari termasuk pada jalur sentral
R/ Mencegah sepsis pada daerah invasif atau daerah lain.


3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, dan diare karena kemoterapi.

o Kriteria hasil
Pasien mempertahankan berat badan 5% sebelum pengobatan. Pasien tidak
mengalami mual, muntah, atau jika akan dikontrol dan diminimalkan.

• Intervensi keperawatan
a. Kaji masukan makanan dan cairan
b. Beritahu jika pasien mempunyai beberapa jenis alergi.
c. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan.
d. Timbang berat badan pasien saat masuk dan setiap minggu dengan menggunakan timbangan yang sama.
e. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering.
f. Instruksikan untuk menelan obat antiemetik sebelum makan jika ada mual atau muntah.
g. Anjurkan pasien untuk mencoba makanan yang berbeda jika ada perubahan rasa kecap.


4. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan efek samping kemoterapi yang dapat mengakibatkan kemoterapi hematuria atau tosisitas renal.

o Kriteria hasil
Eliminasi urine optimal dapat dipertahankan

• Intervensi keperawatan
a. Pantau eliminasi urine yang meliputi warna, jumlah, adanya sel darah merah. Ureum, keratinin
b. Berikan kemoterapi pada pagi hari.
c. Instruksikan pasien untuk minum paling sedikit 8-12 gelas perhari sebelum atau sesudah kemoterapi.
d. Instruksikan pasien untuk berkemih setiap 2-3 jam sebelum tidur dan ketika bangun di malam hari.
e. Beritahu mengenai rasional untuk masukan cairan adekuat dan sering berkemih.


5. Nyeri berhubungan dengan intervensi pembedahan

o Kriteria hasil
Nyeri tidak ada atau terkontrol.

• Intervensi keperawatan

a. Tentukan letak nyeri, karakteristik, kualitas, dan beratnya sebelum pasien mendapatkan pengobatan pengobatan.
b. Cek pesanan medis terhadap obat, dosis, dan frekuensi pemberian analgetik.
c. Cek riwayat alergi obat.
d. Pilih analgesik yang sesuai jika lebih dari satu yang diresepkan.
e. Pantau tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik narkotik untuk dosis pertama atau jika ada tanda yang tidak diumum mohon dicatat.
f. Bantu relaksasi untuk memfasilitasirespon terhadap analgetik.
g. Berikan analgetik pada waktunya terutama untuk nyeri berat.
h.

6. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot,
nyeri karena pembedahan atau amputasi bagian tubuh yang terkena, interupsi
pembedahan atau pengangkatan otot-otot, kartilago dan ligamen.

o Kriteria hasil
Pasien mampu bergerak atau berpindah secara mandiri.

• Intervensi keperawatan
a. Kaji puntung terhadap pembengkakan dan tanda-tanda infeksi.
b. Kaji balutan terhadap pendarahan.
c. Tinggikan kepala tempat tidur selama 24 jam pertama setelah amputasi.
d. Posisikan anggota badan yang sakit pada kesejajaran tubuh yang tepat.
e. Posisikan pasien dengan amputasi kaki pada lambung 3 x sehari.
f. Posisikan puntung dibawah lutut pada posisi ekstensi.
g. Berikan alat untuk berpegangan diatas tempat tidur.
h. Bantu dalam latihan dengan tepat.

















DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC

Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC

Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

Swearingen. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. Jakarta. EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar