Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman
5 November 2011
19 September 2011
KONSEP KEPRIBADIAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Setiap manusia, termasuk diri kita dikaruniai pribadi
yang sangat unik, yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu kita juga
dikaruniai kemampuan untuk membangun pribadi sehingga kita dapai mengembangkan
diri. Yang perlu kita kembangkan tentu saja adalah pribadi yang menyenangkan
baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Pribadi yang menyenangkan sangat kita butuhkan untuk
membangun langkah-langkah keberhasilan dalam hidup, baik itu keberhasilan dalam
pekerjaan, bisnis, karier, maupun kekuarga. Sebaliknya, pribadi yang
membosankan yang ”tidak dapat dikenal” orang lain, akan menghadapi kesulitan
dalam mengembangkan diri. Termasuk hambatan dalam mengembangkan kesuksesan
dalam setiap bidang kehidupan. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, selain
membangun pribadi yang menyenangkan; menyenangkan bagi diri sendiri, juga bagi
orang lain, terutama orang-orang terdekat, rekan kerja, atasan, klien dan
orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita
Sebenarnya kita telah dikaruniai benih-benih pribadi yang
menyenangkan, namun mungkin kita lupa menggunakanya. Atau mungkin kita sengaja
menutupnya dengan keangkuhan dan keegoisan. Mungkin juga rutinitas hidup yang
padat dan berat tanpa sengaja ”menumpuk” pribadi kita yang menyenangkan
ditempat yang jauh dari jangkauan kesadaran. Jadi, ada banyak penyebab baik
disadari, maupun tidak disadari, yang turut andil mematikan pribadi kita yang
menyenangkan itu.
Kepribadian yang baik merupakan kunci sukses diterima
atau tidaknya kita dalam pergaulan, baik itu di rumah, kampus, kantor atau
dimanapun. Coba saja kita perhatikan hanya mereka yang berkepribadian
menariklah yang memiliki banyak teman dan sahabat. Orang-orang dengan
kepribadian yang baik selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya.
Memang kepribadian merupakan watak dasar atau karakter seseorang yang sudah
terbentuk dalam dirinya. Karena itu kepribadian setiap orang jelas tidak
sama. Namun bukan berarti kepribadian yang buruk tidak bisa dirubah. Jika
selama ini kepribadian dinilai kurang baik, tidak ada salahnya kita mulai
merubahnya dari sekarang. Bagaimanapun juga memperbaiki kepribadian bukanlah
sesuatu yang merugikan. Justru sebaliknya, merubah hal menjadi baik adalah
suatu jalan menuju kebenaran. Nah, kita tentu ingin menjadi pribadi yang
disukai banyak orang. Apalagi kalau kita berada di lingkungan kerja yang
menuntut anda selalu berinteraksi dengan orang lain.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apakah
yang dimaksud dengan Kepribadian?
2.
Bagaimana
sesungguhnya pribadi yang menyenangkan itu?
3.
Langkah-langkah
apa saja yang harus diambil untuk membangun pribadi yang menyenangkan itu?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Untuk mengetahui kiat-kiat atau upaya-upaya yang dapat
dilakukan untuk menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diri sendiri dan juga
orang lain, serta bagaimana kita memaknai pribadi kita dalam hidup ini.
D.
METODE
PENULISAN
Dalam penyelesaian paper ini, digunakan metode
kepustakaan yaitu berdasarkan literatur buku dan data yang diperoleh dari
internet. Semua dirangkum dan dianalisis sehingga dapat di uraikan jenis-jenis
kepribadian yang dapat dibangun yang sesungguhnya telah ada dalam diri kita
ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
A. Difinisi
Kepribadian
Menurut
gordon Alport (1951) kepribadian atau personality didifinisikan sebagai suatu
kesatuan organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang
menentukan caranya yang khas dalam penyesuaian diri dengan atau terhadap
lingkungannya.
Berbicara kepribadian kita harus membicarakan
temperament, sifat, karakter, kebiasaan.
1.
Temperament
adalah gejala karakteristik dari setiap emosi individu, termasuk juga mudah
atau tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya beraksi,
kualitas kekuatan suasana hatinya dan gejala ini tergantung kepada faktor
konstitusional dan terutama berasal dari keturunan.
2.
Sifat/trait
adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan dengan kemampuan
untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, serta melalui
membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama.
3.
Watak
atau karakter lebih bersifat stabil, herediter atau bawaan dan bersifat
normatif.
4.
Kebiasaan
adalah sama dengan trait hanya perbedaan situasi yang dicocoki atau direspon
yang terjelma dari kondisi itu.
B.
Tipologi
Kepribadian
a.
Tipe
Kepribadian
Kontruksi
ideal si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan
konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individualnya. Perkembangan kepribadian
dimulai masa remaja dengan ciri-ciri aktualisasinya dengan kematangan individu
itu sendiri dan motivasi memang sudah dibawa pada masa kanak-kanak semata-mata
kepribadian itu belum dimiliki. Anak dilengkapi dengan dorongan nafsu-nafsu dan
reflek-reflek. Dari lahir anak sudah memiliki potensi dan sifat. Pada tahun
pertama akhir, anak telah menunjukkan sifat yang khas itu.
b.
Pembentukan
Kepribadian
Membentuk kepribadian menurut Sigmmund Freud dimulai dai
Id, Ego, Super Ego, karena Id adalah sumber dari motif yang paling dalam,
sedangkan motivasi merupakan motor berprilaku seseorang yang akan mencerminkan
kepribadiannya. Menurut Murray Ego adalah kenamaan kebudayaan dan nilai kesatuan
yang mengatur tingkah lalu/aktifitas dan akan menunjukkan kepribadian
seseorang. Murray penganut pembentukan kepribadian itu berdasarkan analisa
motif yang tentunya tidak bisa terlepas dari alam kebutuhan seseorang.
c.
Perkembangan
kepribadian
Anak 2-3 tahun belum begitu tertari pada nilai-nilai. Anak lahir memiliki
dorongan- dorongan naluri dan reflek-reflek dan belum punya kepribadian. Usia
2,5 tahun belum mempunyai kepribadian, tetapi sudah terlihat perbedaan kualitas
kepribadian meliputi; deferensiasi, integrasi, kematangan, imitasi, belajar dan
pengembangan diri. Anak usia 5 tahun keatas mulai mempunyai kualitas
kepribadian. Anak mulai mengenal nilai, berdasarkan faktor pertambahan usianya,
berarti bertambah pula kematangannya, otomatis kepribadian semakin berkembang.
d.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi terhadap Kepribadian
Faktor sikap, bakat, kecakapan, minat dan perasaan (instrinsik faktor)
sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Juga kebutuhan
dan motivasi serta tujuan seseorang berperilaku sangat menentukan kepribadian
seseorang. Demikian pula dengan persepsi seseorang. Faktor ekstrinsik atau
faktor yang datangnya dari luar seperti; sosialisasi seseorang (hubungan inter
atau antar personal). Faktor budaya, nilai, ideologi, politik, dan Hankam akan
pula berpengaruh terhadap kepribadian. Karena kepribadian seseorang itu
berkembang dan dinamis maka dapat berubah atas pengaruh faktor belajar,
pengalaman, instrospeksi dan tingkat energi dalam tubuh ( faktor Biologis).
e.
Aplikasi
teori perkembangan kepribadian bagi perawat dan keperawatan
1.
Perawat
dapat mengembangkan kepribadiannya sesuai profil pribadi perawat tanpa harus
melalui pendidikan formal.
2.
Perawat
dalam melaksanakan tugasnya dalam Asuhan Keperawatan sesuai dengan teori
kepribadian, pembentukan kepribadian, perkembangan kepribadian, tipe dan jenis
kepribadian.
Menurut
Hartman (2004), setiap orang memiliki kepribadian dasar. Kepribadian seseorang
telah terbentuk sejak nafas pertama ditiupkan di dalam kandungan. Kepribadian
seseorang memang dapat berkembang tetapi tidak akan keluar dari sifat-sifat
inti atau dasarnya. Kepribadian adalah inti pikiran dan perasaan di dalam diri
seseorang yang memberitahu bagaimana ia membawa diri. Kepribadian merupakan
daftar respon berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dipegang kuat.
Kepribadian akan mengarahkan reaksi emosional seseorang disamping rasional
terhadap setiap pengalaman hidup. Dengan kata lain, kepribadian adalah proses
aktif didalam setiap hati dan pikiran seseorang yang menentukan bagaimana ia
merasa, berpikir dan berperilaku.
Taylor
Hartman (2004) membagi tipe kepribadian menurut empat aspek dominan didalam
alam; api, tanah, air dan udara.
Atas dasar ini kemudian ia membedakan empat tipe kepribadian orang menurut kode
warna, yaitu tipe kepribadian merah, biru, putih dan kuning. Kepribadian merah
merepresentasikan sifat-sifat api memiliki semangat yang membara dalam
kehidupan; kepribadian biru merepresentasikan sifat-sifat tanah kuat dan teguh
dalam pendirian; kepribadian putih merepresentasikan sifat-sifat dasar air mengalir
dan mengikuti arus; kepribadian kuning merepresentasikan sifat-sifat angin bertiup
kesana kemari. Masing-masing tipe kepribadian memiliki keunikan sendiri yang
merupakan gabungan antara kekuatan dan kelemahan.
Kepribadian
memang bersifat unik, sehingga tidak ada satu orangpun yang sama persis dengan
orang yang lain, meski terlahir kembar satu telur. Memang ada jutaan variasi kepribadian,
namun menurut Hartman (2004) kepribadian setiap orang dapat digolongkan menurut
motif dasar, kebutuhan dan keinginan yang cenderung stabil sepanjang hayat. Di
pandang dari sudut perbedaan motif dasar, kebutuhan dan keinginan maka setiap
orang dapat digolongkan kedalam tipe kepribadian merah, biru, putih dan kuning.
Penggolongan berdasarkan warna ini dengan maksud agar lebih mudah untuk
diingat.
Kepribadian
merah menjalani hidup dengan penuh kekuatan. Merah sangat berkomitmen pada
tujuan dan bertekad untuk menyelesaikan apapun yang disodorkan kehidupan di hadapannya.
Kepribadian merah begitu penuh tekad dan produktif sehingga keintiman diabaikan
atau disangkal sebagai bukan hal penting.
* Kehidupan adalah rangkaian komitmen bagi biru. Berkomitmen pada hubungan mungkin merupakan kekuatan biru yang terbesar. Biru senang bersama orang lain dan dengan sukarela mengorbankan keuntungan pribadi demi memiliki hubungan yang akrab. Biru memberi diri dengan murah hati dalam hubungan bernilai. Karena kesediaan untuk komit dalam hubungan, biru menjalin persahabatan mendalam yang seringkali berlangsung seumur hidup. Biru sangat bisa diandalkan dan memandang janji verbal sama mengikatnya seperti kontrak tertulis manapun, bangga akan kemampuan mempertahankan hubungan jangka panjang. Sifat mengagumkan ini memberi kredibilitas konsep bahwa biru biasanya menikmati hubungan yang jauh lebih kaya daripada tipe kepribadian manapun. Biru sepenuhnya setia pada orang. Biru tetap setia dalam masa senang dan susah. Ketika orang menyadari dalamnya komitmen biru, mudah dipahami mengapa cuaca baik dan buruk tidak banyak berdampak pada kesetiaan biru.
* Biru dan putih sama-sama mampu sangat komit pada satu sama lain. Biru dan putih menghargai rasa aman dan menemukan hubungan dalam komitmen sebagai cara paling alamiah untuk menikmati hidup. Biru cenderung merasakan komitmen emosional yang mendalam pada orang, sementara putih merasa mudah menerima dan mencintai orang-orang yang dijumpai. Putih toleran dan menerima orang lain. Putih komit tanpa banyak ribut dalam hubungan.
* Tidak ada kepribadian lain yang mengejar kesenangan seperti kuning. Kuning seringkali hidup untuk bermain. Ketika kuning tertekan ditempat kerja atau dirumah, hobi yang membangkitkan energi atau liburan singkat menggantikan wajah lusuh dengan semangat kemudaan. Kuning tidak mengerti mengapa ada yang mau komit pada sesuatu yang tidak mengandung kesenangan didalamnya. Karena menyukai kesenangan dan tidak suka dikekang,
kuning jarang mau terikat dalam suatu pernikahan.
* Kehidupan adalah rangkaian komitmen bagi biru. Berkomitmen pada hubungan mungkin merupakan kekuatan biru yang terbesar. Biru senang bersama orang lain dan dengan sukarela mengorbankan keuntungan pribadi demi memiliki hubungan yang akrab. Biru memberi diri dengan murah hati dalam hubungan bernilai. Karena kesediaan untuk komit dalam hubungan, biru menjalin persahabatan mendalam yang seringkali berlangsung seumur hidup. Biru sangat bisa diandalkan dan memandang janji verbal sama mengikatnya seperti kontrak tertulis manapun, bangga akan kemampuan mempertahankan hubungan jangka panjang. Sifat mengagumkan ini memberi kredibilitas konsep bahwa biru biasanya menikmati hubungan yang jauh lebih kaya daripada tipe kepribadian manapun. Biru sepenuhnya setia pada orang. Biru tetap setia dalam masa senang dan susah. Ketika orang menyadari dalamnya komitmen biru, mudah dipahami mengapa cuaca baik dan buruk tidak banyak berdampak pada kesetiaan biru.
* Biru dan putih sama-sama mampu sangat komit pada satu sama lain. Biru dan putih menghargai rasa aman dan menemukan hubungan dalam komitmen sebagai cara paling alamiah untuk menikmati hidup. Biru cenderung merasakan komitmen emosional yang mendalam pada orang, sementara putih merasa mudah menerima dan mencintai orang-orang yang dijumpai. Putih toleran dan menerima orang lain. Putih komit tanpa banyak ribut dalam hubungan.
* Tidak ada kepribadian lain yang mengejar kesenangan seperti kuning. Kuning seringkali hidup untuk bermain. Ketika kuning tertekan ditempat kerja atau dirumah, hobi yang membangkitkan energi atau liburan singkat menggantikan wajah lusuh dengan semangat kemudaan. Kuning tidak mengerti mengapa ada yang mau komit pada sesuatu yang tidak mengandung kesenangan didalamnya. Karena menyukai kesenangan dan tidak suka dikekang,
kuning jarang mau terikat dalam suatu pernikahan.
C.
Sesungguhnya Pribadi yang menyenangkan adalah
Telah dibahas pada bab pendahuluan, pribadi yang
menyenangkan itu adalah kepribadian yang baik merupakan kunci sukses diterima
atau tidaknya kita dalam pergaulan, baik itu di rumah, kampus, kantor atau dimanapun.
Coba saja kita perhatikan hanya mereka yang berkepribadian menariklah yang
memiliki banyak teman dan sahabat. Orang-orang dengan kepribadian yang baik
selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya. Memang kepribadian
merupakan watak dasar atau karakter seseorang yang sudah terbentuk dalam
dirinya. Karena itu kepribadian setiap orang jelas tidak sama. Namun bukan
berarti kepribadian yang buruk tidak bisa dirubah. Jika selama ini kepribadian
dinilai kurang baik, tidak ada salahnya kita mulai merubahnya dari sekarang. Bagaimanapun
juga memperbaiki kepribadian bukanlah sesuatu yang merugikan. Justru
sebaliknya, merubah hal menjadi baik adalah suatu jalan menuju
kebenaran. Nah, kita tentu ingin menjadi pribadi yang disukai banyak
orang. Apalagi kalau kita berada di lingkungan kerja yang menuntut anda selalu
berinteraksi dengan orang lain.
D.
Langkah-langkah menjadi pribadi yang menyenangkan
Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik
untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu
tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani
tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa
sesungguhnya diri kita ini?”
1.
Jadilah
Pemberi yang Tulus
Pribadi yang menyenangkan adalah pribadi yang menjadi
pemberi yang tulus, memberikan apapun yang terbaik, bermanfaat, membawa
inspirasi untuk hidup yang lebih baik bagi orang lain. Kita jangan pernah
pelit, jangan menghitung untung-rugi, jangan terbiasa menggantungkan hidup dari
pemberian orang lain. Memberikan yang terbaik untuk orang lain, terutama yang
benar-benar membutuhkan kita.
1. Memiliki Kemauan yang Kuat
Orang yang tidak memiliki kemauan kuat tidak akan pernah
sukses. Ini akan bertambah buruk ketika kita mengandalkan pemikiran orang lain.
Bila kita selalu bergantung pada orang lain, berarti kita selamanya menjadi ”bawahan”;
orang yang hanya menjadi pelaksana kerja tanpa pernah menjadi pemimpin bagi
diri sendiri dan orang lain. Jadilah pribadi yang berkemauan kuat untuk
merasakan keberhasilan dan kebahagiaan. Percaya diri, jangan mudah menyerah,
perbesar motivasi untuk sukses adalah kunci atau kiat untuk mencapai
keberhasilan.
1.
Jadilah
Diri Sendiri
Gampang-gampang susah menjadi diri sendiri, yang memiliki
kelebihan dan keunikan di banding orang lain. Namun faktanya kita bisa menjadi
diri kita sendiri; kita bisa memiliki kelebihan di bidang yang kita geluti, dan
memancarkan keunikan karena kita berbeda dari orang lain. Syukuri apa pun
keadaan kita saat ini, yakinlah pada apa yang kita perbuat; selama perbuatan
kita baik dan memancarkan kasih pada sesama. Dan, miliki standar penilaian
untuk diri sendiri; orang yang tepat menilai diri kita adalah kita sendiri. Orang
lain memang dapat menilai kita, namun ketepatannya tidaklah sama bila kita
menilai diri kita sendiri.
2.
Memiliki
Etika
Pergaulan yang sehat mudah diciptakan bila setiap pribadi
memiliki etika yang tinggi. Sebaliknya pribadi yang amburadul, tidak menghargai
aturan bersama, akan merusak citra diri dan kelompok, termasuk dilingkungan
kita berada atau bekerja. Menghargai orang lain seperti kita menghargai diri
kita sendiri akan mempermudah kita menyesuaikan diri dengan orang lain. Menghargai
sistem yang berlaku dilingkungan pergaulan, dan mempelajari seluk-beluk etika
yang melingkupi kita. Dengan perilaku seperti ini, kita akan mudah memiliki
etika yang diterima lingkungan, baik lingkungan kerja maupun keluarga.
3.
Pribadi
yang Sederhana
Kesederhanaan hati dalam berperilaku mencerminkan ”kerendahan
jiwa” yang memesona bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, kesombongan
dan sikap selalu meninggikan diri lebih sering merusak interaksi dengan sesama.
Sebuah kesuksesan sering kali bermula dari kesederhanaan sikap dan langkah. Oleh
karena itu, apabila kita ingin menciptakan keberhasilan yang tidak melukai
orang lain, milikilah jiwa yang sederhana. Kita tidak akan pernah merasa”lebih
tinggi dan lebih hebat” dari orang lain apabila kita selalu merendah,
mengedepankan kesederhanaan yang mengagumkan.
4.
Selalu
tahu Berterima Kasih
Suatu kesuksesan dalam hidup ini tidak pernah datang
sendirian. Kesuksesan sering kali menghampiri kita bersama ”jasa orang lain”. Dengan
kata lain, kita tidak akan bisa meraih kesuksesan sendirian; ada andil orang
lain. Oleh karena itu, bangunlah pribadi yang ”tahu berterima kasih” agar kita
menyenangkan mereka yang turut memberi peran dalam kesuksesan kita.
5.
Lancarlah
Berkomunikasi
Mengabaikan komunikasi sama halnya dengan mengabaikan
keberhasilan. Oleh karena itu, secepatnyalah membangun pribadi yang lancar
berkomunikasi agar keberhasilan tidak lewat begitu saja dihadapan kita. Dengan
lancar berkomunikasi, kita kita akan mudah memandu diri sendiri dan orang lain
yang berada di lingkup kesuksesan kita untuk bersama-sama memahami kesulitan
atau tantangan yang harus dipecahkan, tanpa perlu terjadi salah paham dalam
suatu beban tugas.
6.
Kendalikan
Diri
Untuk membangun diri dengan baik kita harus mengendalikan
diri sendiri dalam segala hal. Pengendalian diri yang baik juga akan memandu
kita dalam menentukan bidang keberhasilan yang kita inginkan. Suasana apapun
yang sedang melingkupi kita saat ini, buatlah suasana itu menyenangkan bagi
diri sendiri. Apabila kita sedang mengalami duka yang mendalam, anggaplah hal
itu sebagai ”pemanis hidup”. Jangan beranggapan bahwa kita akan selamanya
mengalami situasi pahit itu. Sebaliknya, bila kita sedang bersukacita, jangan
terbawa emosi untuk merayakan secara berlebihan. Kita harus dapat menendalikan
diri untuk secara wajar menikmati kebahagian yang kita rasakan. Penendalian
diri itulah kuncinya. Dalam situasi apa pun, kendalikanlah diri kita.
7.
Jujurlah
pada Diri Sendiri
Meski kadang menyakitkan, kejujuran tetap harus kita
utamakan. Jangan biarkan diri kita rusak hanya karena ketidakjujuran,
kelicikan, suka berkelit, atau karena perbuatan-perbuatan tidak kesatria
lainya. Kita harus berdiri di atas kejujuran dalam setiap hal yang berkaitan
dengan impian menuju keberhasilan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan
untuk menanamkam rasa jujur dalam diri kita sendiri; biasakan berbuat sesuatu sesuai
dengan ucapan anda, jangan ”menyembunyikan diri” dibalik kelemahan, akuilah
kelemahan yang ada pada diri kita, dan yang terakhir, ingatlah bahwa orang lain
sakit hati ketika kita bohongi.
8.
Bersikaplah
Percaya Diri
Apa yang dapat kita lakukan tanpa kepercayaan diri? Mungkin
kita hanya terombang-ambing dalam sebuah keadaan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mungkin
kia hanya menggantungkan nasib tanpa memiliki keputusan terbaik demi diri
sendiri. Lebih berbahaya lagi, seluruh hidup kita ketergantungan pada orang
lain yang lebih memiliki kepercayaan diri. Jadi sangatlah pantas bila kita
melihat dan mengukur seberapa besar kepercayaan diri yang kita miliki? Apabila
kita belum memiliki kepercayaan diri, galilah dengan cerdas dari dasar hati dan
pikiran. Sebaliknya, apabila kita telah memilikinya, gunakan untuk meraih
impian dan kesuksesan dalam diri kita. Rasa percaya diri bisa membuat kita
mudah untuk menentukan sikap, mampu untuk mengatasi kesulitan hidup, dan rasa
percaya diri menuntun kita menuju apa yang kita impikan.
9.
Bersikaplah
Cepat Tanggap
Mungkin tidak ada tempat untuk orang yang berjalan lamban
di jalur kesuksesan. Tidakan yang lamban selain membuang waktu, juga terasa
membosankan apabila kita tipe pribadi yang ingin cepat dan cerdas dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Mungkin juga kita merasa gerah bila melihat
orang-orang di sekitar yang menyia-nyiakan waktu dan tenaga hanya karena mereka
kurang cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas. Orang yang cepat
tanggap tidak akan meremehkan waktu dan kesempatan yang datang menghampirinya. Sebaliknya,
apa pun tantangan atau kesempatan yang menghampiri, dengan tanggap dan cekatan
akan diambilnya; hasilya pun cepat mereka nikmati. Ada beberapa kiat yang bisa
dilakukan untuk menjadi pribadi yang cepat tanggap;
a.
Jangan
terbiasa membuang waktu dengan percuma. Kebiasaan menghabiskan waktu tanpa
tindakan yang bermakna hanya akan merugikan diri sendiri.
b.
Kembangkan
Imajinasi. Semakin kaya imajinasi, semakit cepat kita menanggapi setiap hal
yang menghampiri.
c.
Mulailah
sekarang, karena hari esok belum tentu berpihak pada kita. Apabila kita
beranggapan bahwa inilah saatnya untuk memulai, maka mulailah segera, jangan
ditunda-tunda.
10. Buat
daftar perilaku anda yang terdiri dari kebaikan dan keburukan.
Kemudian coba bandingkan mana yang lebih banyak kebaikan
atau keburukan. Lalu pikirkan apa yang mendorong anda bersikap baik dan apa
yang mendorong anda berperilaku buruk. Berjanjilah pada diri sendiri untuk
merubah hal-hal buruk pada diri anda. Setiap saat anda berhasil merubahnya,
berjanjilah untuk tidak kembali menjadi buruk. Dengan demikian, perlahan-lahan
sikap dan sifat buruk anda akan hilang sama sekali.
11. Jagalah ‘ucapan’ anda
Pepatah mengatakan ‘lidah lebih tajam daripada pedang’.
Memang kadang kata-kata dan ucapan yang ‘pedas’ terasa lebih menyakitkan
daripada perbuatan buruk sekalipun. Kalau selama ini anda dikenal sebagai orang
yang ‘nyinyir’ dan ketus cobalah untuk merubahnya perlahan-lahan. Tahan
keinginan anda untuk melontarkan komentar buruk, celaan, dan sindiran terhadap
orang lain yang tidak anda sukai, sekalipun anda sangat ingin.
12. Dengarkan orang lain
Salah satu hal yang membuat anda disukai banyak orang
adalah anda bisa menjadi pendengar yang baik. Coba anda cermati setiap kali
anda berinteraksi. Apakah anda terlalu mendominasi percakapan jika berbincang
dengan orang lain?. Jika ‘ya’ cobalah untuk belajar mendengar. Jangan terlalu
sibuk memuji diri sendiri. Berikan respon yang positif atas
percakapannya dengan anda.
13. Jangan
menunjukkan sikap tidak setuju pada orang lain secara frontal, sekalipun memang
anda tidak setuju.
Pada moment tertentu seperti rapat kantor atau diskusi,
anda memang boleh mengungkapkan kebenaran dengan menyanggah pendapat orang lain
yang anda anggap salah. Tetapi pada obrolan santai seperti saat makan siang,
anda tidak perlu terlalu menunjukkan sikap tidak setuju pada pendapat teman
anda. Anggukkan
kepala setiap kali teman anda berbicara.
14. Jangan
biarkan orang lain merasa tidak nyaman dengan kehadiran anda.
Selama ini anda yang tergolong pemarah, sensitif, sering
mengeluh, dan jarang tersenyum membuat orang lain merasa enggan berada di dekat
anda. Orang lain merasa tidak nyaman, karena khawatir sewaktu-waktu anda akan
melibatkan dia dalam emosi anda. Coba kendalikan emosi dengan lebih memahami
kehadiran orang-orang di sekeliling anda. Belajarlah untuk berpikir positif dan
tersenyumlah pada orang-orang yang menyapa anda. Ciptakan suatu sikap yang
membuat orang lain merasa ‘nyaman’ dengan kehadiran anda.
Memang pada
awalnya anda akan kesulitan merubah kepribadian yang selama ini melekat pada
diri anda. Tapi percayalah kepribadian yang baik merupakan modal terbesar dalam
menuju sukses. Terlebih di lingkungan pekerjaan yang banyak melibatkan
orang-orang/ personil
BAB III
PENUTUP
Besar
kecilnya suatu keberhasilan atau kesuksesan ditentukan oleh banyak faktor. Salah
satunya adalah faktor kepribadian. Di samping itu kita dapat ”melihat ke dalam”
diri kita, dan pribadi seperti apa yang telah kita miliki.
Selalu masih ada waktu dan kesempatan untuk membangun dan
menunjukkan keperibadian pribadi yang menyenangkan untuk diri sendiri dan juga
orang lain, apabila kita merasa belum sepenuhnya berhasil membangunnya untuk
keberhasilan diri yang kita ingingkan itu. Jangan ragu dan jangan beranggapan
bahwa membangun pribadi yang menyenangkan itu sulit. Yakinlah bahwa kita pasti
bisa melakukannya. Pribadi yang menyenangkan itu adalah hak kita sebagai
individu, dan sudah seharusnya dikembangkan demi mewujudkan keberhasilan yang
kita cita-citakan.
Inilah catatan penutup yang dapat membantu kita membangun
pribadi yang menyenangkan itu.
1.
Mulai
dari Diri Sendiri
Mulailah membangun pribadi yang menyenangkan itu dari
diri sendiri, bukan karena ingin meniru orang lain. Dengan membangun pondasi di
dalam diri, pribadi kita akan lebih kuat dan tidak mudah goyah karena pengaruh
orang lain dan situasi disekitar kita. Di samping itu, kita dapat selalu
mengembangkan diri sesuai dengan kehendak kita. Jadi, mulailah dari diri
sendiri untuk setiap hal yang menentukan keberhasilan kita.
2.
Terbuka
terhadap ”Teguran” orang lain
Teguran dari orang lain dapat berupa kritik, saran dan
masukan pada diri kita. Mungkin dari rekan kerja, klien, keluarga merasa perlu
memberikan teguran yang positif untuk kebaikan kita. Oleh karena itu,
bijaksanalah dalam menerima teguran atau masukan itu. Ambilah pelajaran baik
dari teguran itu, dan gunakan untuk membangun pribadi yang menyenangkan, demi
suatu keberhasilan.
3.
Bertahap
dan Setiap Hari
Seperti halnya membangun sebuah rumah, kita perlu
bertahap melakukannya, tidak bisa sekali jadi. Demikian pula untuk membangun
pribadi yang menyenangkan, kita perlu bertahap dan rutin setiap hari, jangan
tergesa-gesa agar bangunan itu tidak roboh. Kita memiliki bangunan pribadi yang
kokoh, karena kita mengerjakan bangunan itu. Kita melakukan secara bertahap,
penuh perhitungan dan setiap saat pada kesempatan yang datang pada kita.
4.
Saat
Ini
Ya, wujudkanlah langkah kita mulai sekarang untuk
membangun kepribadian yang menyenangkan itu. Jangan tunda esok hari. Lebih
cepat kita memulai, lebih cepat kita nikmati keberhasilannya.
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth
Wagele dan Renee Baron. 2005. Eneagram.
Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Prasetyo Herry. 2007, Pribadi yang
Menyenangkan. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer; klp Gramedia.
Widayatun Tri Rusmi. 1999, Ilmu
Prilaku M.A.104. Jakarta: CV Sagung
Seto; PT Fajar Interpratama.
www.google.com/glorianet.org.psikologi/kepribadian.ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DIABETES MELITUS
A.
Konsep
Dasar Penyakit
1.
Definisi
Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis
terjadi defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya
keadaan glukosa darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau
merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan
gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya
sekresi insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi
insulin.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Mansjoer, 2000).
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Mansjoer, 2000).
Diabetes mellitus merupakan sekelompok
kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau
hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes mellitus merupakan penyakit
sistemis, kronis, dan multifaktorial yang dicirikan dengan hiperglikemia dan
hipoglikemia. ( Mary,2009)
2.
Epidemiologi
Diabetes terutama prevalen
diantara kaum lanjut usia. Diantara individu yang berusia lebih dari 65 tahun,
8,6% menderita diabetes tipe II. Angka ini mencakup 15% populasi pada panti
lansia.
3.
Etiologi
Pada lansia cenderung
terjadi peningkatan berat badan, bukan karena mengkonsumsi kalori berlebih
namun karena perubahan rasio lemak-otot dan penurunan laju metabolisme basal.
Hal ini dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya diabetes mellitus.
Penyebab diabetes mellitus pada lansia secara umum dapat digolongkan ke dalam
dua besar:
·
Proses menua/kemunduran
(Penurunan
sensitifitas indra pengecap, penurunan fungsi pankreas, dan penurunan kualitas
insulin sehingga insulin tidak berfungsi dengan baik).
·
Gaya hidup(life style) yang jelek (banyak
makan, jarang olahraga, minum alkohol, dll.)
Keberadaan penyakit lain, sering
menderita stress juga dapat menjadi penyebab terjadinya diabetes mellitus.
Selain itu
perubahan fungsi fisik yang menyebabkan keletihan dapat menutupi tanda dan
gejala diabetes dan menghalangi lansia untuk mencari bantuan medis. Keletihan,
perlu bangun pada malam hari untuk buang air kecil, dan infeksi yang sering
merupakan indikator diabetes yang mungkin tidak diperhatikan oleh lansia dan
anggota keluarganya karena mereka percaya bahwa hal tersebut adalah bagian dari
proses penuaan itu sendiri.
4.
Klasifikasi
·
Diabetes melitus tipe I:
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik melalui proses imunologik maupun idiopatik. Karakteristik Diabetes Melitus tipe I:
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik melalui proses imunologik maupun idiopatik. Karakteristik Diabetes Melitus tipe I:
·
Mudah terjadi ketoasidosis
·
Pengobatan harus dengan insulin
·
Onset akut
·
Biasanya kurus
·
Biasanya terjadi pada umur yang masih muda
·
Berhubungan dengan HLA-DR3 dan DR4
·
Didapatkan antibodi sel islet
·
10%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
·
Diabetes melitus tipe II:
Bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Karakteristik DM tipe II:
Bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Karakteristik DM tipe II:
·
Sukar terjadi ketoasidosis
·
Pengobatan tidak harus dengan insulin
·
Onset lambat
·
Gemuk atau tidak gemuk
·
Biasanya terjadi pada umur > 45 tahun
·
Tidak berhubungan dengan HLA
·
Tidak ada antibodi sel islet
·
30%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
·
± 100% kembar identik terkena
5.
Manifestasi
Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti
poliuria, polidipsia, polifagia pada lansia umumnya tidak ada. Osmotik diuresis
akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat
muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia
urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka
tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia
atau baru terjadi pada stadium lanjut. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien
adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan
saraf.
Pada DM lansia terdapat perubahan
patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari
kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang
sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan
pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai
yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala
akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaukoma
c. Retinopati
d. Gatal
seluruh badan
e. Pruritus
Vulvae
f. Infeksi
bakteri kulit
g. Infeksi
jamur di kulit
h. Dermatopati
i.
Neuropati perifer
j.
Neuropati viseral
k. Amiotropi
l.
Ulkus Neurotropik
m. Penyakit
ginjal
n. Penyakit
pembuluh darah perifer
o. Penyakit
koroner
p. Penyakit
pembuluh darah otak
q. Hipertensi
6.
Patofisiologi
Dalam proses metabolisme, insulin
memegang peranan penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan
sebagai bahan bakar. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh
sel beta di pankreas. Bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel
dengan akibat glukosa akan tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa
di dalam darah meningkat.
Pada Diabetes
melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pasien
diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk
kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas
limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu
sendiri.
Pada diabetes
melitus tipe 2 yang sering terjadi pada lansia, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat
pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit
dan glukosa dalam darah menjadi meningkat.
7.
Pathway
8.
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes
mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah
dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan
terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah
normal.
Ada
5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
a.
Diet
Suatu
perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% Protein, 75% Karbohidrat
kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan rendah lemak dalam
diet ini tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan
aktivitas reseptor insulin.
b.
Latihan
Latihan
juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan sebelum latihan
sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia secara fisik mampu
mengikuti program latihan kebugaran. Pengkajian pada tingkat aktivitas klien
yang terbaru dan pilihan gaya hidup dapat membantu menentukan jenis latihan
yang mungkin paling berhasil. Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan
dampak rendah, merupakan permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk
lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi
fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan
kesejahteraan emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan
berat badan.
c.
Pemantauan
Pada
pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa secara
rutin. Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau untuk
mengetahui terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM pada lansia.
d.
Terapi (jika
diperlukan)
Sulfoniluria
adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan efektif hanya untuk
penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat dilakukan untuk mepertahankan
kadar glukosa darah dalam parameter yang
telah ditentukan untuk membatasi komplikasi penyakit yang membahayakan.
e.
Pendidikan
·
Diet yang harus
dikomsumsi
·
Latihan
·
Penggunaan insulin
9.
Pemeriksaan
Diagnostik
·
Glukosa darah sewaktu
·
Kadar glukosa darah
puasa
·
Tes toleransi glukosa
Kriteria
diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan:
-
Glukosa plasma sewaktu
>200 mg/dl (11,1 mmol/L)
-
Glukosa plasma puasa
>140 mg/dl (7,8 mmol/L)
-
Glukosa plasma dari
sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2
jam post prandial (pp) > 200 mg/dl
10.
Komplikasi Diabetes Melitus
Komplikasi diabetes mellitus
diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. Yang termasuk dalam komplikasi akut
adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis (DKA), dan hyperglycemic hyperosmolar nonketocic coma (HHNC). Yang termasuk
dalam komplikasi kronis adalah retinopati diabetic, nefropati diabetic,
neuropati, dislipidemia, dan hipertensi.
·
Komplikasi akut
a.
Diabetes
ketoasidosis
Diabetes
ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang berat pada
jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat
sensitive terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi (
penyakit)
· Komplikasi kronis:
a.
Retinopati
diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada
pembuluh retina. Terdapat pula bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya
aliran darah retina. Respon terhadap iskemik retina ini adalah pembentukan
pembuluh darah baru, tetapi pembuluh darah tersebut sangat rapuh sehingga mudah
pecah dan dapat mengakibatkan perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa
mengakibatkan ablasio retina atau berulang yang mengakibatkan kebutaan
permanen.
b.
Nefropati
diabetic
Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah
glomerulosklerosis yang nodular yang tersebar dikedua ginjal yang disebut
sindrom Kommelstiel-Wilson. Glomeruloskleriosis nodular dikaitkan dengan
proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi sindrom Kommelstiel-Wilson ditemukan
hanya pada DM.
c.
Neuropati
Neuropati diabetic terjadi pada 60 – 70% individu DM.
neuropati diabetic yang paling sering ditemukan adalah neuropati perifer dan
autonomic.
d.
Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami
dislipidemia.
e.
Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan
penyakit ginjal, mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM tipe
2, hipertensi bisa menjadi hipertensi esensial. Hipertensi harus secepat
mungkin diketahuin dan ditangani karena bisa memperberat retinopati, nepropati,
dan penyakit makrovaskular.
f.
Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic
yaitu neuropati, iskemia, dan sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan.
Hilanggnya sensori pada kaki mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus.
Perubahan mikrovaskuler dan makrovaskuler dapat mengakibatkan iskemia jaringan
dan sepsis. Neuropati, iskemia, dan sepsis bisa menyebabkan gangrene dan
amputasi.
g.
Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah
di bawah 60 mg/dl, yang merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat
hipoglikemik oral. Penyebab hipoglikemia pada pasien sedang menerima pengobatan
insulin eksogen atau hipoglikemik oral.
B.
Konsep
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Riwayat
Kesehatan Keluarga
Adakah
keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
b. Riwayat
Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana
penanganannya, mendapat terapi insulin jenis
apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang
dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
c.
Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram
otot, tonus otot menurun.
d. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi,
kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama,
takikardi, perubahan tekanan darah
e. Integritas
Ego
Stress,
ansietas
f. Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria,
nokturia, anuria ), diare
g. Makanan
/ Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet,
penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
h. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas
kelemahan pada otot, parestesia, gangguan penglihatan.
i. Nyeri
/ Kenyamanan
Abdomen
tegang, nyeri (sedang / berat)
j. Pernapasan
Batuk
dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
k. Keamanan
Kulit
kering, gatal, ulkus kulit.
2.
Diagnosa
Keperawatan
a.
Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme protein, lemak.
b. Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan osmotik
diuresis ditandai dengan tugor kulit menurun dan membran mukasa kering.
c.
Gangguan
integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer)
ditandai dengan gangren pada extremitas.
d.
Kelelahan berhubungan
dengan kondisi fisik yang kurang.
e.
Risiko
tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
f. Resiko
terjadi injury berhubungan dengan penurunan penglihatan.
3.
Perencanaan
Keperawatan
a.
Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
metabolisme protein, lemak.
Tujuan : Setelah
diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat
terpenuhi.
Dengan Kriteria Hasil :
§ Pasien
dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
§ Berat
badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Tindakan / intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1.
Timbang
berat badan sesuai indikasi.
|
Mengkaji
pemasukan makanan yang adekuat.
|
2.
Tentukan
program diet, pola makan, dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan
klien.
|
Mengidentifikasikan
kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
|
3.
Auskultrasi
bising usus, catat nyeri abdomen atau perut kembung, mual, muntah dan
pertahankan keadaan puasa sesuai inndikasi.
|
Hiperglikemi,
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit menurunkan motilitas atau fungsi
lambung (distensi atau ileus paralitik).
|
4.
Berikan makanan cair yang mengandung nutrisi
dan elektrolit. Selanjutnya memberikan makanan yang lebih padat.
|
Pemberian
makanan melalui oral lebih baik diberikan pada klien sadar dan fungsi
gastrointestinal baik.
|
5.
Identifikasi
makanan yang disukai.
|
Kerja
sama dalam perencanaan makanan.
|
6.
Libatkan
keluarga dalam perencanaan makan.
|
Meningkatkan
rasa keterlibatannya, memberi informasi pada keluarga untuk memahami
kebutuhan nutrisi klien.
|
7.
Observasi
tanda hipoglikemia (perubahan tingkat kesadaran, kulit lembap atau dingin,
denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing).
|
Pada
metabolism kaborhidrat (gula darah akan berkurang dan sementara tetap
diberikan tetap diberikan insulin, maka terjadi hipoglikemia terjadi tanpa
memperlihatkan perubahan tingkat kesadaran.
|
Kolaborasi
|
|
8.
Lakukan
pemeriksaan gula darah dengan finger
stick.
|
Analisa
di tempat tidur terhadap gula darah lebih akurat daripada memantau gula dalam
urine.
|
9.
Pantau
pemeriksaan laboratorium (glukosa darah, aseton, pH, HCO3)
|
Gula
darah menurun perlahan dengan penggunaan cairan dan terapi insulin terkontrol
sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumber kalori.
Saat ini, kadaar aseton menurun dan asidosis dapat dikoreksi.
|
10. Berikan pengobatan insulin secara teratur melalui iv
|
Insulin
regular memiliki awitan cepat dan dengan cepat pula membantu memindahkan
glukosa ke dalam sel. Pemberian melalui IV karena absorpsi dari jaringan
subkutan sangat lambat.
|
11. Berikan larutan glukosa ( destroksa, setengah salin
normal).
|
Larutan
glukosa ditambahkan setelah insulin dan cairan membawa gula darah sekitar 250
mg /dl. Dengan metabolism karbohidrat mendekati normal, perawatan diberikan
untuk menghindari hipoglikemia.
|
12. Konsultasi dengan ahli gizi.
|
Bermanfaat
dalam penghitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
|
b. Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan osmotik
diuresis ditandai dengan tugor kulit menurun dan membran mukosa kering.
Tujuan : Setelah
diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan atau hidrasi pasien
terpenuhi
Dengan kriteria Hasil :
§ Pasien
menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer
dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat
secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Tindakan
/ Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1.
Kaji
riwayat klien sehubungan dengan lamanya atau intensitas dari gejala seperti
muntah dan pengeluaran urine yang berlebihan.
|
Membantu
memperkirakan kekurangan volume total. Adanya proses infeksi mengakibatkan
demam dan keadaan hipermetabolik yang meningkatkan kehilangan air.
|
2.
Pantau
tanda – tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah ortostatik.
|
Hipovolemi
dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. Perkiraan berat ringannya
hipovolemi saat tekanan darah sistolik turun ≥ 10 mmHg dari posisi berbaring
ke duduk atau berdiri.
|
3.
Pantau
pola napas seperti adanya pernapasan Kussmaul atau pernapasan yang berbau
keton.
|
Perlu
mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi
alkalosis respiratoris terhadap keadaan ketoasidosis. Napas bau aseton
disebabkan pemecahan asam asetoasetat dan harus berkurang bila ketosis
terkoreksi.
|
4.
Pantau
frekuensi dan kualitas pernapasan, penggunaan otot bantu napas, adanya
periode apnea dan sianosi.
|
Hiperglikemia
dan asidosis menyebabkan pola dan frekuensi pernapasan normal. Akan tetapi
peningkatan kerja pernapasan, pernapasan dangkal dan cepat serta sianosis
merupakan indikasi dari kelelahan pernapasan atau kehilangan kemampuan
melalui kompensasi pada asidosis.`
|
5.
Pantau
suhu, warna kulit, atau kelembapannya.
|
Demam,
menggigil, dan diaphoresis adalah hal umum terjadi pada proses infeksi, demam
dengan kulit kemerahan, kering merupakan tanda dehidrasi.
|
6.
Kaji nadi
perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa.
|
Merupakan
indicator tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.
|
7.
Pantau
masukan dan pengeluaran.
|
Memperkirakan
kebutuhan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan terapi yang
diberikan.
|
8.
Ukur
berat badan setiap hari.
|
Memberikan
hasil pengkajian terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan
selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
|
9.
Pertahankan
pemberian cairan minimal 2500 ml/hari.
|
Mempertahankan
hidrasi atau volume sirkulasi.
|
10. Tingkatkan lingkungan yang menimbulkan rasa nyaman.
Selimuti klien dengan kain yang tipis.
|
Menghindari
pemanasan yang berlebihan terhadap klien lebih lanjut dapat menimbulkan
kehilangan cairan.
|
11. Kaji adanya perubahan mental atau sensori.
|
Perubahan
mental berhubungan dengan hiperglikemi atau hipoglikemi, elektrolit abnormal,
asidosis, penurunan perfusi serebral, dan hipoksia. Penyebab yang tidak
tertangani, gangguan kesadaran menjadi predisposisi aspirasi pada klien.
|
12. Observasi mual, nyeri abdomen, muntah, dan distensi
lambung.
|
Kekurangan
cairan dan elektrolit mengubah motilitas lambung sehinnga sering menimbulkan
muntah dan secara potensial menimbulkan kekurangan cairan dan elektrolit.
|
13. Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat,
edema, peningkatan berat badan, nadi tidak teratur, dan distensi vaskuler.
|
Pemberian
cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan cairan dan
gagal jantung kronis.
|
Kolaborasi
|
|
14. Berikan terapi cairan sesuai indikasi:
11.
Normal
salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dekstrosa.
12.
Albumin,
plasma, atau dekstran.
|
Tipe dan
jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon klien
secara individual.
Plasma
ekspander (pengganti) dibutuhkan jika mengancam jiwa atau tekanan darah sudah
tidak dapat kembali normal dengan usaha rehidrasi yang telah dilakukan.
|
15. Pasang kateter urine.
|
Memberikan
pengukuran yang tepat terhadap pengeluaran urine terutama jika neuropati
otonom menimbulkan retensi atau inkontinensia.
|
c.
Gangguan
integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer)
ditandai dengan gangren pada extremitas.
Tujuan : Setelah
diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidakterjadi komplikasi.
Dengan Kriteria Hasil :
- menunjukan peningkatan integritas kulit
· Menghindari
cidera kulit
Tindakan / intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1.
Inspeksi kulit
terhadap perubahan warna,turgor,vaskuler,perhatikan kemerahan.
|
Menandakan aliran sirkulasi
buruk yang dapat menimbulkan infeksi
|
2. Ubah
posisi setiap 2 jam beri bantalan pada tonjolan tulang
|
Menurunkan tekanan
pada edema dan menurunkan iskemia
|
3. Pertahankan
alas kering dan bebas lipatan
|
Menurunkan iritasi
dermal
|
4. Beri
perawatan kulit seperti penggunaan
lotion
|
Menghilangkan
kekeringan pada kulit dan robekan pada kulit
|
5. Lakukan
perawatan luka dengan teknik aseptik
|
Mencegah terjadinya
infeksi
|
6. Anjurkan
pasien untuk menjaga agar kuku tetap pendek
|
Menurunkan resiko
cedera pada kulit oleh karena garukan
|
7. Motivasi
klien untuk makan makanan TKTP
|
Makanan TKTP dapat
membantu penyembuhan jaringan kulit
yang rusak
|
d.
Kelelahan berhubungan
dengan kondisi fisik yang kurang.
Tujuan : setelah
diberikan asuhan keperawatan diharapkan kelelahan dapat teratasi.
Kriteria hasil klien
dapat:
·
Mengidentifikasikan
pola keletihan setiap hari.
·
Mengidentifikasi tanda
dan gejala peningkatan aktivitas penyakit yang mempengaruhi toleransi
aktivitas.
·
Mengungkapkan
peningkatan tingkat energi.
·
Menunjukkan perbaikan
kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
Tindakan
/ intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1. Diskusikan
kebutuhan akan aktivitas. Buat jadwal perencanaan dan identifikasi aktivitas
yang menimbulkan kelelahan.
|
Pendidikan dapat memberikan
motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun klien sangat lemah.
|
2.
Diskusikan penyebab
keletihan seperti nyeri sendi, penurunan efisiensi tidur, peningkatan upaya
yang diperlukan untuk ADL.
|
Dengan
mengetahui penyebab keletihan, dapat menyusun jadwal aktivitas.
|
3.
Bantu
mengidentivikasi pola energi dan buat rentang keletihan. Skala 0-10 (0=tidak
lelah, 10= sangat kelelahan)
|
Mengidentifikasi
waktu puncak energi dan kelelahan membantu dalam merencanakan akivitas untuk
memaksimalkan konserfasi energi dan produktivitas.
|
4.
Berikan aktivitas
alternatif dengan periode istirahat yang cukup/ tanpa diganggu.
|
Mencegah
kelelahan yang berlebih.
|
5.
Pantau nadi ,
frekuensi nafas, serta tekanan darah sebelum dan seudah melakukan aktivitas.
|
Mengindikasikan
tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
|
6.
Tingkatkan
partisipasi klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan.
|
Memungkinkan
kepercayaan diri/ harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat
ditoleransi.
|
7.
Ajarkan untuk
mengidentifikasi tanda dan gejala yang menunjukkan peningkatan aktivitas
penyakit dan mengurangi aktivitas, seperti demam, penurunan berat badan,
keletihan makin memburuk.
|
Membantu
dalam mengantisipasi terjadinya keletihan yang berlebihan.
|
e.
Risiko
tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
Tujuan
: setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi tanda-tanda infeksi
Dengan Kriteria hasil :
·
Tidak
ada rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesia.
·
Terjadi
perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
Rencana /
intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1. Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan sperti
demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen, urine warna keruh
atau berkabut.
|
Pasien
mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan
ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
|
2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci
tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk
pasiennya sendiri.
|
Mencegah
timbulnya infeksi nosokomial.
|
3.
Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif.
|
Kadar
glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi meddia terbaik dalam pertumbuhan
kuman.
|
4.
Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, masase daerah
tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering dan tetap
kencang.
|
Sirkulasi
perifer bisa terganggu dan menempatkan pasien pada peningkatan risiko
terjadinya kerusakan pada kulit.
|
5. Berikan tisue dan tempat sputum pada tempat yang mudah
dijangkau untuk penampungan sputum atau secret yang lainnya.
|
Mengurangi
penyebaran infeksi.
|
Kolaborasi
|
|
6. Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitifitas sesuai
dengan indikasi.
|
Untuk
mengidentifikasi adanya organisme sehingga dapat memilih atau memberikan
terapi antibiotik yang terbaik.
|
7. Berikan obat antibiotik yang sesuai
|
Penanganan
awal dapat mambantu mencegah timbulnya sepsis.
|
f. Resiko
terjadi injury berhubungan dengan penurunan penglihatan.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi injuri
Dengan Kriteria hasil :
·
Dapat menunjukkan
terjadinya perubahan perilaku untuk menurunkan factor risiko dan untuk
melindungi diri dari cidera.
·
Mengubah
lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
Rencana /
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
|
|
1. Hindarkan
lantai yang licin.
|
Lantai licin
dapat menyebabkan risiko jatuh pada pasien.
|
2.
Gunakan bed yang
rendah.
|
Mempermudah
pasien untuk naik dan turun dari tempat tidur.
|
3.
Orientasikan klien
dengan ruangan.
|
Lansia daya
ingatnya sudah menurun, sehingga diperlukan orientasi ruangan agar lansia bisa
menyesuaikan diri terhadap ruangan.
|
4.
Bantu klien dalam
melakukan aktivitas sehari-hari
|
Lansia sudah
mengalami penurunan dalam fisik, sehingga dalam melakukan aktivitas sehari
diperlukan bantuan dari orang lainsesuai dengan yang dapat ditoleransi
|
5. Bantu
pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
|
Keterbatasan
aktivitas tergantung pada kondisi lansia.
|
DAFTAR PUSTAKA
Doenges,
Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni
Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes
Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
Kushariyadi.2010.Asuhan
Keperawatan pada Klien Lanjut Usia.Jakarta : Salemba Medika
Luecknote,
Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani,
Jakarta:EGC, 1997.
Mary Baradero, Mary Wilfrid dan Yakobus
Siswandi. 2009. Klien Gangguan Endokrin:
Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta :
EGC
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa
H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
Langganan:
Komentar (Atom)
