Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman

22 September 2010

AsKep Akne Vulgaris
Konsep Dasar Gangguan Integumen (Akne Vulgaris)
I. Definisi/pengertian
A. Akne vulgaris ( jerawat ) penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papula, pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya ( Arif Mansjoer, dkk. 2000)
B. Akne vulgaris ( jerawat ) merupakan kelainan folikel umum yang mengenai pilosebasea ( polikel rambut ) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher, serta bagian atas. Akne ditandai dengan komedo tertutup ( white head ), komedo terbuka ( black head ), papula, pustul, nodus, dan kista ( Brunner & Suddarth, 2001 )

II. Epidemiologi/ insiden kasus
Akne vulgaris biasanya terjadi pada seseorang antara usia 40 dan 60 tahun.
Akne vulgaris sering dialami oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa muda, dan akan dengan sendirinya pada usia sekitar 20 – 30 tahun. Walaupun demikian ada banyak juga orang setengah baya yang mengalami serangan akne. Akne tidak terdapat pada laki – laki yang dikastrasi sebelum puberitas atau pada perempuan yang sudah diooforektomi.

III. Etiologi/penyebab
Akne biasanya disebabkan oleh tingginya sekresi sebum. Androgen telah diketahui sebagai perangsang sekresi sebum, estrogen mengurangi produksi sebum.
Penyebab eksternal acne vulgaris jarang teridentifikasi.
* Beberapa kosmetik dan minyak rambut (hair pomades) dapat memperburuk akne.

* Obat-obatan pemicu timbulnya akne antara lain: steroid, lithium, beberapa antiepilepsi, dan iodides.

* Congenital adrenal hyperplasia, polycystic ovary syndrome, dan kelainan endokrin lainnya (dengan kadar androgen yang berlebihan) dapat memicu perkembangan acne vulgaris.

* Acne vulgaris dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik.


IV. Faktor Predisposisi
selain faktor dari dalam ada juga faktor lain yang mempengaruhi akne yaitu faktor – faktor mekanik seperti mengusap, menggesek tekanan, dan meregangkan kulit yang kaya akan kelenjar sebasea dapat memperburuk akne yag sudah ada. Selain itu obat – obatan juga dapat mencetuskan akne sperti kortikosteroid oral kronik yang dipakai untuk mengobati penyakit lain ( seperti lupus eritematosus sistemik atau transplantasi ginjal ), dapat menimbulkan vistula dipermukaan kulit wajah. Dada dan punggung, kontrasepsi juga dapat memperburuk akne.
Akne pada perempuan yang berusia sekitar 20 an, 30-an dan 40-an sering kali disebabkan oleh kosmetik dan pelembab yang dasarnya dari minyak dan menimbulkan komedo.
V. Patofisiologi

VI. Klasifikasi Akne Vulgaris
Akne diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Komedonal ( komedo hitam dan komedo putih )
2. Papulopustular ( papula dan Postula )
3. Kistik

Macam – macam akne:
1. Ekskoriata terjadi pada individu yang memanipulasi jerawat secara obsesif, dengan demikian dapat menimbulkan jaringan parut yang banyak sekali.
2. Akne konglobata merupakan bentuk akne kistik yang paling berat dengan kista profunda, komedo multiple dan jaringan parut yang nyata. Keadaan ini dapat disertai demam, dan mungkin pasien perlu dirawat dirumah sakit.
3. Akne koloidalis memiliki jaringan parut dan keloid multiple di tempat – tempat terdapat lesi akne.

VII. Gejala Klinis
* Gejala lokal termasuk nyeri (pain) atau nyeri jika disentuh
(tenderness).
* Biasanya tidak ada gejala sistemik pada acne vulgaris.
* Akne yang berat (severe acne) disertai dengan tanda dan gejala
sistemik disebut sebagai acne fulminans.
* Acne dapat muncul pada pasien apapun sebagai dampak
psikologis, tanpa melihat tingkat keparahan penyakitnya.
*Erupsi kulit berupa komedo, papul, pustule,nodus atau kusta dapat disertai rasa gatal. Isi komedo adalah sebum yang kental atau padat. Isi kkista biasanya berupa pus dan darah. Tempat predileksi adalah muka, bahu, leher, dada, punggung bagian atas dan lengan bagian atas.

VIII. Pemeriksaan Fisik
Acne vulgaris bercirikan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada distribusi sebaceous.

Komedo dapat berupa whitehead (komedo tertutup) atau blackhead (komedo terbuka) tanpa disertai tanda-tanda klinis dari peradangan apapun.

Papula dan pustula terangkat membenjol (bumps) disertai dengan peradangan yang nyata.

Wajah dapat menjadi satu-satunya permukaan kulit yang terserang jerawat; namun dada, punggung, dan lengan atas juga sering terkena jerawat.

* Pada akne komedo (comedonal acne), tidak ada lesi peradangan. Lesi komedo (comedonal lesions) merupakan lesi akne yang paling awal, sedangkan komedo tertutup (closed comedones) merupakan lesi precursor dari lesi peradangan (inflammatory lesions)

* Akne peradangan yang ringan (mild inflammatory acne) bercirikan adanya komedo dan papula peradangan.

* Akne peradangan yang sedang (moderate inflammatory acne) memiliki komedo, papula peradangan, dan pustula. Akne ini memiliki lebih banyak lesi dibandingkan dengan akne peradangan yang lebih ringan.

* Acne nodulocystic bercirikan komedo, lesi-lesi peradangan, dan nodul besar yang berdiameter lenih dari 5 mm. Seringkali tampak jaringan parut (scarring).


IX. Pemeriksaan Diagnostik
A. Pemeriksaan Laboratorium
Penegakan diagnosis acne vulgaris berdasarkan diagnosis klinis.

* Pada pasien wanita dengan nyeri haid (dysmenorrhea) atau hirsutisme, evaluasi hormonal sebaiknya dipertimbangkan. Pasien dengan virilization haruslah diukur kadar testosteron totalnya. Banyak ahli juga mengukur kadar free testosterone, DHEA-S, luteinizing hormone (LH), dan kadar follicle-stimulating hormone (FSH).

* Kultur lesi kulit untuk me-rule out gram-negative folliculitis amat diperlukan ketika tidak ada respon terhadap terapi atau saat perbaikan tidak tercapai.

B. Pemeriksaan Histopatologis
Microcomedo dicirikan oleh adanya folikel berdilatasi dengan a plug of loosely arranged keratin. Seiring kemajuan (progression) penyakit, pembukaan folikular menjadi dilatasi dan menghasilkan suatu komedo terbuka (open comedo). Dinding follicular tipis dan dapat robek (rupture). Peradangan dan bakteri terlihat jelas, dengan atau tanpa follicular rupture. Follicular rupture disertai reaksi badan asing (a foreign body reaction). Peradangan padat (dense inflammation) menuju dan melalui dermis dapat berhubungan dengan fibrosis dan jaringan parut (scarring).

X. Prognosis

* Pada pria, akne biasanya menghilang pada usia dewasa muda. Lima persen pria masih memiliki akne pada usia 25 tahun.

* Pada wanita, 12% masih memiliki akne di usia 25 tahun, sedangkan 5% masih memiliki akne di usia 45 tahun.

* Rata-rata prognosis orang dengan akne adalah baik.


XI. Therapy
Pengobatan akne meliputi penghentian pemakaian semua faktor yang dapat mmperberat akne seperti pemakaian make up dan krim pelembab yang bahan dasarnya terbuat dari minyak. Pembersihan dan penggosokan wajah dengan sabun dapat melenyapkan minyak diperlukan kulit dan melepaskan beberapa komedo. Dianjurkan dengan memakai sabun seperti dial, pernox, postek, neutrogenadan desquam-X wash dan benzoil peroksida
Antibiotic topical yang dihgunakan untuk mengobati akne, papula dan pustula superpisial adalah klindamisin dan ertromisin.

Antibiotik sistemik merupakan therapy utama untuk akne popular dan pustular ropunda. Pasien biasanya diberi tetrasiklin, eritromisin dan minosiklin.

Farmakoterapi Jerawat
Tujuan farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan untuk mencegah komplikasi.
Secara umum ada dua golongan:
1. Retinoid, misalnya:
1.1. isotretinoin,
1.2. tretinoin,
1.3. adapalene,
1.4. tazarotene.
2. Antibiotik, misalnya:
2.1. minocycline,
2.2. doxycycline,
2.3. tetracycline,
2.4. trimethoprim/sulfamethoxazole.

Berikut ini sedikit uraian tentang farmakoterapi jerawat beserta nama dagangnya di Amerika:
1. Retinoid
1.1. Isotretinoin (Accutane)

Mekanisme Kerja
Pengobatan (medication) secara oral yang paling efektif mengobati berbagai kondisi dermatologis yang serius.
Isotretinoin merupakan bentuk isomer 13-cis sintetis dari tretinoin yang terjadi secara alami (trans-retinoic acid). Struktur kedua agen tersebut berhubungan dengan vitamin A. Menurunkan ukuran kelenjar sebaseus dan produksi sebum. Juga menghambat diferensiasi kelenjar sebaseus dan keratinisasi abnormal.
Pasien wanita haruslah memberikan informed consent secara tertulis (dan menandatanganinya), yang menyatakan bahwa mereka akan menggunakan kontrasepsi selama menjalani terapi dan untuk 30 hari paskaterapi.

Dosis
Total dosis kumulatif yang direkomendasikan sebesar 120-150 mg/kg berat badan, dosis awal (starting dose) sebaiknya <0.5 mg/kg berat badan/hari PO, kemudian dosis dapat dinaikkan hingga 1 mg/kg berat badan/hari.

1.2. Tretinoin (Retin-A, Retin-A Micro, Avita)

Mekanisme Kerja
Menghambat pembentukan microcomedo. Menormalkan diferensiasi epidermis folikuler dan menunjukkan (meng-exhibit) anti-inflammatory properties. Tersedia dalam krem 0.025%, 0.05%, dan 0.1%. Juga tersedia dalam bentuk gels 0.01% dan 0.025%.

Dosis
Dimulai dengan formulasi tretinoin dosis terendah dan dapat ditingkatkan sesuai toleransi tubuh. Berikan hs (sebelum tidur) atau qod. Turunkan dosis bila terjadi iritasi.

1.3. Adapalene (Differin)

Mekanisme Kerja
Turunan (derivative) asam naptoat (naphthoic acid) yang mampu mengikat reseptor asam retinoat (retinoic acid). Menormalkan diferensiasi epidermis folikuler dan menunjukkan (meng-exhibit) anti-inflammatory properties. Tersedia dalam sediaan (formulation) krem, gel, solution, dan pledget.

Dosis
Berikan sedikit pada kulit yang berjerawat, diberikan: qd.

1.4. Tazarotene (Tazorac, AVAGE)
Mekanisme Kerja
Prodrug retinoid yang memiliki active metabolite modulates differentiation dan proliferation of epithelial tissue; juga memiliki efek antiperadangan (anti-inflammatory) dan immunomodulatory properties. Tersedia preparat krem dan gel 0.05% dan 0.1%.

Dosis
Berikan sedikit saja pada area yang berjerawat, diberikan: qd.

2. Antibiotik

2.1. Minocycline (Dynacin, Minocin)

Mekanisme Kerja
Mengobati infeksi yang disebabkan oleh organisme gram-negatif dan gram-positif. Juga infeksi yang disebabkan oleh organisme klamidia (chlamydial), riketsia (rickettsial), dan mikoplasma (mycoplasmal).

Tersedia dalam preparat 50mg, 75mg, dan 100mg.

Dosis dewasa
50-100 mg PO bid.

Dosis anak-anak
<8 tahun: tidak direkomendasikan.
>8 tahun: mula-mula 4 mg/kg berat badan PO,
diikuti dengan 2 mg/kg berat badan q12h.

2.2. Doxycycline (Bio-Tab, Doryx, Vibramycin)

Mekanisme Kerja
Agen antibakteri yang efektif melawan organisme gram-positive dan gram-negative.

Tersedia dalam preparat 20mg, 50mg, dan 100mg.

Dosis dewasa
100 mg PO bid.

Dosis anak-anak
<8 tahun: tidak direkomendasikan.
>8 tahun: 2-5 mg/kg berat badan/hari PO/IV dalam 1-2 dosis
terbagi; sebaiknya tidak melebihi 200 mg/hari.

2.3. Tetracycline (Sumycin)

Mekanisme Kerja
Agen antibakteri yang efektif melawan organisme gram-positive dan gram-negative.

Dosis dewasa
250-500 mg PO q6h
Untuk infeksi ringan sampai sedang: 500 mg PO bid atau 250 mg PO qid untuk 7-14 hari.

Dosis anak-anak
<8 tahun: : tidak direkomendasikan.
>8 tahun: 25-50 mg/kg/hari (10-20 mg/lb) PO dibagi qid

2.4. Trimethoprim/sulfamethoxazole
(Bactrim, Bactrim DS, Septra, Septra DS).

Mekanisme Kerja
Antibiotik dengan aktivitas melawan banyak organisme gram-positive dan gram-negative. Menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis asam dihidrofolat (dihydrofolic acid). Tersedia dosis 80 mg trimethoprim dan 400 mg sulfamethoxazole atau 160 mg trimethoprim dan 800 mg sulfamethoxazole (kekuatan ganda).

Dosis dewasa
160 mg TMP/800 mg SMZ PO q12h.

Dosis anak-anak
8 mg/kg berat badan/hari TMP/40 mg/kg berat badan/hari SMZ PO/IV dibagi q12h.


XII. Penatalaksanaan
Saat digunakan antibiotik sistemik atau topikal, sebaiknya digunakan bersama dengan benzoyl peroxide untuk mengurangi risiko terjadinya resistance.

1. Topical treatments
Topical retinoids bersifat comedolytic dan anti-inflammatory.
Topical retinoids yang paling banyak diresepkan termasuk adapalene, tazarotene, dan tretinoin.

Topical retinoids menipiskan stratum corneum, dan berkaitan erat dengan sun sensitivity. Nasihatilah pasien untuk berlindung dari sinar matahari (sun protection), misalnya dengan memakai topi, tabir surya, dll.

Antibiotik topikal yang yang umum diresepkan termasuk erythromycin dan clindamycin dosis tunggal atau dikombinasikan dengan benzoyl peroxide.

2. Systemic treatments

Antibiotik sistemik merupakan terapi mainstay untuk jerawat.

Antibiotik kelompok tetracycline umumnya diresepkan untuk akne. Semakin antibiotik bersifat lebih lipofilik, seperti doxycycline dan minocycline, biasanya lebih efektif daripada tetracycline.

Antibiotik lainnya, seperti: trimethoprim, dosis tunggal atau dikombinasi dengan sulfamethoxazole, dan azithromycin, dilaporkan bermanfaat.

XIII. Diit
Nasi

XIV. Komplikasi
* Lesi akne dapat berlanjut menjadi permanent scarring.

Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian
A. Data Subjektif
1. Pasien mengeluh gatal pada wajah
2. Pasien mengeluh nyeri bila disentuh
3. Pasien mengeluh tentang bagian tubuhnya yang terdapat jerawat
4. Pasien mengatakan takut tentang bekas jerawatnya
5. Pasien mengatakan tidak tahu tentang cara mengatasi jerawatnya


B. Data Objektif
1. Terdapat komedo pada wajah, bahu, leher, dada, punggung bagian atas dan lengan bagian atas
2. Terdapat pus
3. Terdapat darah
4. Pasien tampak cemas
5. Pasien tampak bertanya-tanya tentang wajahnya
6. Pasien tampak sering menggaruk-garuk wajahnya

II. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko terjadi penyebaran infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat
2. Nyeri b/d proses peradangan
3. Gangguan perubahan citra tubuh b/d keadaan luka
4. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakitnya
5. Ansientas b/d kecacatan
6. Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit
III. Rencana Keperawatan
A. Dx 1
Intervensi:
1. Observasi keadaan luka pasien
2. Gunakan tehnik septic dan aseptic selama perawatan luka
3. Tekankan tehnik cuci tangan yang baik untuk setiap individu yang kontak dengan pasien
4. Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional:
1. Mengetahui keadaan luka pasien
2. Mencegah terpajan organism infeksius
3. Mencegah kontaminasi silang dan menurunkan resiko penyebaran infeksi
4. Antibiotic dapat membantu mengurangi penyebaran infeksi
B. Dx 2
Intervensi
1. Observasi tingkat nyeri pasien(skala 0-10)
2. Ajarkan pasien tehnik distraksi,relaksasi
3. Beri posisi yang nyaman
4. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional
1. Mengetahui derajat nyeri pasien
2. Distraksi relaksasi dapat membantu meringankan nyeri
3. Memberikan kenyamanan pada pasien sehingga dapat mengurangi nyeri yang dirasakan
4. Pemberian analgetik dapat membantu meringankan derajat nyeri pasien
C. Dx 3
Intevensi
1. Observasi makna perubahan yang dialami oleh pasien
2. Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam perawatan
3. Catat perilaku menarik diri : peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak terlibat pada perawatan
Rasional
1. Mengetahui perasaan pasien tentang keadaannya dan control emosinya
2. Dukung keluarga dan orang terdekat dapat mempercepat proses penyembuhan
3. Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih ketat
D. Dx 4
Intervensi
1. Diskusikan tentang perawatan kulit,contoh :penggunaan pelembab dan pelindung sinar matahari
2. Berikan HE tentang Higiene,pencegahan dan pengobatan penyakitnya
3. Tekankan pentingnya mengevaluasi perawatan
Rasional
1. Meningkatkan perawatan diri setelah pulang dan kemandirian
2. Meningkatkan pengetahuan pasien
3. Dukungan jangka panjang continue dan perubahan terapi dibutuhkan untuk mencapai penyembuhan optimal
E. Dx 5
Intervensi :
1. Observasi derajat ansietas pasien
2. Informasikan pasien bahwa perasaannya normal
3. Berkan kenyaman fisik, lingkungan tenag dan istirahat
Rasional:
1. Mengetahui tingkat ansietas pasien sehingga dapat memberikan HE yang tepat
2. Pemahaman bahwa perasaan normal dapat membantu pasien meningkatkan beberapa perasaan kontrol emosi
3. Rasa nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga membantu menurunkan ansietas
F. Dx 6
Intervensi :
1. Obeservasi atau catat ukuran, warnadan keadaan kulit di ara sekitar luka
2. Ubah posisi dengan sering
3. Beri perawatan kulit sering agar tidak terjadi kering atau lembab
Rasional :
1. Mengetahui perkembangan luka pasien dan kulit di sekitarnya
2. Memperbaiki sirkulasi darah
3. Terjadi kering / lembab dapat merusak kulit dan mempercepat kerusakan

IV. Evaluasi
A. Dx 1
“tidak terjadi penyebaran infeksi akibat luka jerawat”
B. Dx 2
“ Nyeri pasien dapat diatasi”
C. Dx 3
“ pasien tidak lagi mengalami gangguan perubahan citra tubuh”
D. Dx 4
“ Pasien mengetahui tentang hygiene, pencengahan dan pengobatan bekas jerawatnya”
E. Dx 5
“ Ansietas pasien dapat diatasi”
F. Dx 6
“ Tidak terjadi kerusakan integritas kuli

Daftar Pustaka

1. Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
2. Djuanda, A . 2000. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin . FKUI : Jakarta.
3. Phipet.blog.friendster.com/2008/04/pengaruh – menstruasi terhadap/jerawat – akne – vulgaris
4. Http=//mariasonhaji.wordpress.com/2008/12/02/antibiotika – topical/
5. Luknanrohimin.bog spot.com/2008/03/asuhan – keperawatan – aknevulgaris
6. Mansjoer, arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran.Edisi Ketiga. Media Aesculapius: Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar