Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman

18 November 2010

STANDAR dan STANDARD OPERATING PROCEDURE ( SOP )

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia kesehatan merupakan aset penting dan terbesar dalam mentukan kualitas pelayanan kesehatan, untuk mendukung dan mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi, maka kapasitas tenaga kesehatan perlu terus ditingkakan. Langkah-langkah startegi, taktis dan aplikatif diperlukan agar tenaga kesehatan yang berkontribusi dalam memberikan pelayanan di Rumah Sakit dapat berperan dan siap bersaing di tatanan dunia kesehatan regional, nasional dan global.

Peningkatan kinerja pelayanan kesehatan telah menjadi tema utama di seluruh dunia. Dengan tema ini, organisasi pelayanan kesehatan dan kelompok profesional kesehatan sebagai pemberi pelayanan harus menampilkan akontabilitas sosial mereka dalam memberikan pelayanan yang mutakhir kepada konsumen yang berdasarkan standar profesionalisme, sehingga diharapkan dapat mnemenuhi harapan masyarakat. Sebagai konsekuensinya peningkatan kinerja memerlukan persyaratan yang diterapkan dalam melaksanakan pekerjaan yang berdasarkan standar tertulis.

Dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan, standar sangat membantu perawat dan bidan untuk mencapai asuhan yang berkualitas, sehingga perawat dan bidan harus berpikir realistis tentang pentingnya evaluasi sistematis terhadap semua aspek asuhan yangberkualitas tinggi. Namun keberhasilan dalam mengimplemetasikan standar sangat tergantung pada individu perawat atau bidan itu sendiri, usaha bersama dari semua staf dalam suatu organisasi , disamping partisipasi dari seluruh anggota profesi

Berdasarkan hasil riset tahap I bulan Otober 2000 – Maret 2001 yang dilaksanakan oleh Tim Konsultan WHO Temuan permasalahan diperoleh melalui penelitian di DKI Jakarta, Sumut, Sulut dan Kaltim tahun 2001 oleh WHO dan Direktorat Keperawatan Depkes salah satu hasilnya adalah belum dikembangkannya secara optimal kelengkapan standar dan SPO untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tugas

PENGERTIAN STANDAR

Beberapa Pengertian tentang Standar

Banyak diskusi dalam mempelajari dan membahas definisi standar. Kamus Oxford meberikan beberapa pengertian konsep kunci mengenai definisi standar. Pertama, standar adalah derajat terbaik. Kedua, standar meberikan suatu dasar perbandingan. Ketiga, beberapa pengertian lain seperti tertulis dibawah ini ;

1. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (PP 102 tahun 2000).

2. Standar adalah suatu catatan menimum dimana terdapat kelayakan isi dan akhirnya masyarakat mengakui bahwa standar sebagai model untuk ditiru.

3. Standar adalah suatu pernyataan tertulis tentang harapan yang spesifik.

4. Standar adalah suatu pernyataan tertulis dari suatu harapan-harapan yang spesifik

5. Standar adalah suatu patokan pencapaian berbasis pada tingkat tertentu ( dr.Yodi Mahendra ).

6. Standar adalah suatu pedoman atau model yang disusun dan disepakati bersama serta dapat diterima pada suatu tingkat praktek untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan ( Reyers, 1983).

7. Standar adalah nilai-nilai (velues) yang tertulis yang meliputi peraturan-peraturan dalam mengaplikasi proses-proses kunci, proses itu sendiri, dan hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

8. Standar adalah menaikkan ketepatan kualitatif atau kuantitatif yang spesifik dari komponen struktural dalam sistem pelayanan kesehatan yang didasarkan pada proses atau hasil suatu harapan (Donebean).

PERSYARATAN STANDAR

Standar yang dikembangkan dengan baik akan memberikan ciri ukuran kualitatif yang tepat seperti yang tercantum dalam standar pelaksanaannya. Standar selalu berhubungan dengan mutu karena standar menentukan mutu. Standar dibuat untuk mengarahkan cara pelayanan yang akan diberikan serta hasil yang ingin dicapai.

Standar yg berbasis manajemen kinerja, memiliki persyaratan-persyaratan sbb:

w S – specific

w M -measurable -- terukur

w A - appropriate-- tepat

w R – reliable -- handal

w T – timely – batas waktu

KETENTUAN STANDAR

Ada 4 Ketentuan Standar

1. Harus tertulis dan dapat diterima pada suatu tingkat praktek, mudah dimengerti oleh para pelaksananya.

2. Mengandung komponen struktur (peraturan-peraturan), proses (tindakan/action) dan hasil (outcomes).standar struktur menjelaskan peraturan, kebijakan fasilitas dan lainnya. Proses standar menjelaskan dengan cara bagaimana suatu pelayanan dilakukan dan outcome standar menjelaskan hasil dari dua komponen lainya.

3. Standar dibuat berorientasi pada pelanggan, staf dan sistem dalam organisasi. Pernyataan standr mengandung apa yang diberikan kepada pelanggan/pasien, bagaimana staf berfungsi atau bertindak dan bagaimana sistem berjalan. Ketiga komponen tersebut harusberhubungan dan terintegrasi. Standar tidak akan berfungsi bila kemampuan atau jumlah staf tidak memadai.

4. Standar harus disetujui atau disahkan oleh yang berwenang. Sekali standar telah dibuat, berarti sebagian pkerjaan telah dapat diselesaikan dan sebagian lagi adalah mengembangkannya melalui pemahaman (desiminasi). Komitmen yang tinggi terhadap kinerja prima melaui penerapan-penerapannya secara konsisten untuk tercapainya tingkat mutu yang tinggi.

KOMPONEN STANDAR

Beberapa komponen yang harus ada pada standar :

1. Standar Struktur

Standar struktur adalah karakteristik organisasi dalam tatanan asuhan yang diberikan. Standar ini sama dengan standar masukan atau standar input yang meliputi;

· Filosofi dan objektif

· Organisasi dan administrasi

· Kebijakan dan peraturan

· Staffing dan pembinaan

· Dekripsi pekerjaan (fungsi tugas dan tanggung jawab setiap posisi klinis)

· Fasilitas dan peralatan

2. Standar Proses

Standar proses adalah kegiatan dan interaksi antara pemberi penerima asuhan. Standar ini berfokus pada kinerja dari petugas profesional di tatanan klinis, mencakup :

· Fungsi tugas, tanggung jawab, dan akontabilitas

· Manajemen kinerja klinis

· Monitoring dan evaluasi kinerja klinis

3. Standar Outcomes

Standar outcomes adalah hasil asuhan dalam kaitannya dengan status pasien. Standar ini berfokus pada asuan pasien yang prima, meliputi :

· Kepuasan pasien

· Keamanan pasien

· Kenyamanan pasien

Dalam pelayanan kesehatan, hasil mungkin tidak selalu seperti apa yang diharapkan atau diinginkan, namun standar struktur dan proses yang baik akan menunjukkan sejauh mana kemungkinan pencapaian outcomes atau hasil yang diharapkan. Outcomes adalah hasil yang dicapai melalui penentuan dan melengkapi proses. Outcomes ditulis untuk setiap prosedur, pedoman praktek dan rencana.

KOMPONEN – KOMPONEN STANDAR

STRUKTUR

PROSES

HASIL

w Filosofi,tujuan

w Orgn & Manaj

w Peraturan2 atau

kebijakan

w JD: TJ & akun

tabilitas

w Alat& Fasilitas

w Interaksi pemberi & penerima jasa

w Action: tupoksi

w Megelola kinerja

w Melaks.monitoring

w Komunikasi

w Kepuasan pasen/staf

w Keamanan / kenyamanan

pasen

w Perubahan status kes.

TINGKATAN STANDAR

w Standar Minimum: standar yang harus terpenuhi dan menyajikan standar tingkat dasar, terarah dan berkesinambungan

w Standar Optimum: memenuhi tingkat keadaan yang diinginkan atau pada tingkat terbaik, hanya bisa dicapai oleh orang yg berdedikasi tinggi

PENGGUNAAN STANDAR

w Untuk proses menilai diri sendiri: dirancang individu atau komite dari luar, apakah standar terpenuhi.

à pengalaman belajar berharga

à komitmen yg jujur menilai kekuatan/kelemahan

kinerja

w Inspeksi: observasi, survey, monitoring

w Akreditasi: penilaian tingkat mutu kinerja organisasi

( struktur-proses-hasil)

CARA PENULISAN STANDAR

1. Mulailah dengan pernyataan standar

2. Identifikasi kriteria outcome dalam bentuk pernyataan siap untuk dimonitor

3. Identifikasi proses yang dibutuhkan untuk mencapai outcome( apa yang harus dikerjakan)

4. Identifikasi struktur ( apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan proses kerja u/ mencapai outcome

5.Gunakan kata-kata yang yang dapat diukur ,contoh:kemungkinan tdk bisa diukur.

6. Ringkas – memberikan persepsi sama bagi setiap perawat

7. Monitoring standar harus merupakan bagian dari evaluasi asuhan pasen

8. Standar harus merefleksi kepada asuhan spesifik ps

9. Keterlibatan tim multi disiplin dalam penyusunan standar diperlukan

10. Harus menjadi bagian sistem yg mudah dicapai dan diperbaiki bila diperlukan

11. Standar terbaru harus dipelihara utk meningkatkan kinerja: tempat tetap, mudah dilihat & mudah dijangkau.

MANFAAT

1. Menetapkan norma bagi individu / kelompok

2. Menunjukkan ketersediaan yang berkualitas dan sebagai tolok ukur untuk memonitoring kualitas kinerja

3. Berfokus pada inti dan tugas penting yang harus pada situasi aktual, sesuai kondisi lokal

4. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya yang lebih bai

5. Meningkatkan pemanfaatan staf dan motivasi staf

6. Menilai aspek praktek atau post basic pelatihan / pendidikan

MENENTUKAN PRIORITAS STANDAR

w Identifikasi dimensi/area utama pelayanan

w Identifikasi fungsi-fungsi kunci / essensial

w Prioritaskan fungsi essensial kedlm katagori

1. High-Risk ( Resiko Tinggi ) à dilakukan atau tidak, tetap beresiko ( Operasi pada cedera otak berat )

2. High-Volume ( Volume Tinggi ) à bila kegiatan selalu dilakukan dan volumenya lebih dari 50%

3. Problem-Prone ( Rawan Masalah ), à tindakan yang dilakukan beresiko tinggi, tapi tidak disengaja ( contoh : bayi tertukar ) SIFAT ERORNYA TINGGI

4. High-Cost ( Biaya Tinggi ) à biaya yang dibutuhkan untuk suatu tindakan tinggi, atau sulit dijangkau

Bobotkan fungsi-fungsi tersebut kedalam : Fungsi kritis, Sangat sangat Penting, Sangat Penting & Penting.

MENENTUKAN PRIORITAS

IDENTIFIKASI DIMENSI

( RUANG LINGKUP PELAYANAN




IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KRITIS

( ESSENSIAL )

KATAGORI

RESIKO TINGGI

VOLUME TINGGI

RAWAN MASALAH

BIAYA TINGGI

SCORING

URUTAN PRIORITAS

BUAT STANDAR

CARA MENENTUKAN PRIORITAS


High-Risk

(Resiko

High

Volume

Problem

Prone

High

Cost

Fungsi 1





Fungsi 2





Fungsi 3





Fungsi Kritis

Sangat sangat penting

Sangat penting

Penting





FORMAT STANDAR

DIMENSI:

FUNGSI:

PERNYATAAN STANDAR :

Struktur

Proses

Outcome

Apa yang harus disiapkan agar proses kerja terlaksana?

Apa yang harus dikerjakan untuk mencapai

Hasil??

Apa yang dihasilkan suatu pekerjaan/ kegiatan???

LOGO

RS

JUDUL

NO DOK:

REVISI

HALAMAN

STANDAR

TGL TERBIT:

DISYAHKAN OLEH

DIREKTUR RS/KA.PUSK

(……………………………)

DIMENSI:

FUNGSI:

PERNYATAAN STANDAR :

Struktur

Proses

Outcome




STANDARD OPERATING PROCEDURE
( S O P )

Pengertian :

  1. Satu perangkat instruksi atau langkah langkah kegiatan yang dibakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Depkes RI 2004)
  2. Suatu standar untuk mendorong suatu kelompok untuk mencapai tujuan
  3. Tatacara yang harus dilalui dalam suatu proses kerja tertentu yang dapat diterima oleh s3eseorang yang berwenang atau bertanggung jawab uantuk mempertahankan tingkat penampilan tertentu shg kegiatan diselesaikan efektif efisien (Depkes Ri, 1995)
  4. SOP merupakan tatacara yang dibakukan yang harus dlalui utk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Kars 2000)

FUNGSI :

w Memperlancar tugas staf atau tim

w Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan

w Mengetahui dengan jelas hambatan dan dilacak

w Mengarahkan staf agar sama2 disiplin dalam bekerja

w Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan

TUJUAN

w Menjaga konsistensi tingkat penampilan kinerja

w Meminimalkan kegagalan, kesalahan, dan kelalaian

w Parameter untuk menilai mutu kinerja

w Memastikan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif

w Menjelaskan alur tugas, wewenang dan tanggung jawab

w Mengarahkan pendokumentasian yang adekuat dan akurat

Prinsip Penyusunan SOP

  1. Bentuk tim penyusun SOP
  2. Pertimbangkan prosedur dlm kesatuan yg utuh
  3. Susun SOP sebelum melaks kerja baru
  4. Tinjau kepustakaan dan informasi yg relevan
  5. Minta masukan dari staf /petugas terkait
  6. Tetapkan SOP sebagi pedoman
  7. Tetapkan hasil yg diharapkan
  8. Buat daftar peralatan & fasilitas yg diperlukan
  9. Tetapkan siapa yg berwenang melaks prosedur
  10. Tetapkan indikasi dan kontra indikasi prosedur dan resiko yg diwaspadai
  11. Susun langkah-langkah berdasarkan logika utk proses kerja efektif efisien dan aman
  12. Buat sistem penomoran
  13. Tulis SOP dgn bahasa yg mudah, kata-kata pendek sederhan, bahasa positif, tdk bermakna ganda
  14. Buat bagan / alur mekanisme
  15. Ujicoba SOP
  16. Sempurnakan setelah ujicoba
  17. Bakukan oleh pimpinan
  18. Sosislisasikan
  19. Revisi sesuai kebutuhan dan IPTEK

Langkah-langkah menyusun SOP

  1. Menentukan judul; yaitu judul dari SOP
  2. Menjelaskan pengertian judul ; Merupakan pengertin dari judul SOP
  3. Rumuskan tujuan; Yaitu tujuan yang diharapkan bila SOP dilakukan dengan benar
  4. Menentukan kebijakan;Yaitu hal hal yang mendasari suatu SOP yang dijadikan referensi, dasar kebijakan baik lokal maupun nasional, serta kesepakatan yang telah dilegalitas.
  5. Menentukan persiapan; yaitu fasilitas alat bahan yang harus tersedia untuk melakukan proses ( meliputi jenis, jumlah serta spesifikasinya)
  6. Membuat aliran proses;M erupakan urutan prosedur yang runut dan rinci meliputi;

- Pra interaksi; yaitu kegitan yang harus dilakukan sebelum berinteraksi dengan pasien meliputi ceking dokumen dan klarifikasi

- Interaksi ; yaitu suatu kegiatan yang dilakukan saat berinteraksi dengan pasien , meliputi;- Orientasi, kerja, terminasi

- Post interaksi; yaitu kegiatan yang dilakukan setelah selesai berinteraksi dengan pasien

7. Menentukan unit terkait; yaitu bagian lain dari bagian pelaku prosedur yang berkaitan, dan harus ada agar SOP bisa dilaksanakan dengan tepat dan benar

8 .Dianjurkan utk mambuat bagan-bagan agar dapat memberikan gambaran lengkap




KESIMPULAN

Standar sangat diperlukan dalam pelayanan keperawatn dan kebidanan. Standar sangat membantu perawat dan bidan untuk mencapai asuhan yang berkualitas. Tingkatan standar terbagi menjadi 2 yaitu standar minimum dan standar optimum. Standar minimum harus dicapai oleh perawat dan bidan, sementara standar optimum adalah suatu keadaan ideal yang ingin dicapai. Ada empat ketentuan standar yaitu harus tertulis, disetujui dan disyahkan oleh yang berwenang. Penggunaan standar terutama pada tiga proses evaluasi ; menilai diri sendiri, inspeksi, dan akreditasi.

CONTOH STANDAR

STANDAR ASKEP BEDAH

DIMENSI : Keperawatan Bedah

FUNGSI : Asuhan keperawatan pasien Post - Operasi

PERNYATAAN STANDAR :

Perawat mampu: mengidentifikasi jenis dan kebutuhan post operasi, mampu memberikan posisi yang tepat sesuai dengan jenis anestesi dan tingkat kesadaran, mampu melakukan observasi post operasi, mampu mengambil langkah-langkah tepat dalam keadaan darurat/kritis, melaksanakan tindakan keperawatan dan prinsip-prinsip pencegahan infeksi (universal precautions), mengevaluasi serta mendokumentasikannya.

STRUKTUR

PROSES

HASIL

1. Perawat yang berpengalaman

2. Set vital sign

3. Alat ambulasi (tisu, bengkok, handuk, bantal, oksigen, alat resusitasi, selimut tambahan standar infus)

4. Set perawatan luka

5. Lembar perawatan observasi post op

6. Set personal hygiene

7. Leaflet tingkat nyeri (Wong-Bakers)

8. Lembar dokumentasi askep

1. Mengidentifikasi jenis dan kebutuhan post operasi

2. Melakukan pengkajian post anastesi dengan sistem scoring 0-2 selama 1 ,2,3 jam pertama dengan indicator penilaian respirasi,sirkulasi, tingkat kesadaran,warna kulit,aktifitas)

3. mempersiapkan transportasi pasien dengan ketentuan :

Ø SDM: Mampu menangani keadaan kegawat daruratan selama transportasi.jumlah 2 orang,perbandingan ukuran tubuh pasien dan perawat harrus seimbang

Ø Equipmen: brancard dengan pengaman ,restrain ,tabung oksigen, bengkok,tisu, standar infus, selimut tambahan ,ambubag dalam kondisi siap pakai

Ø Prosedur pemindahan :posisioning,efektif dan efisien

Ø Passage(jalur lintasan ):aman, nyaman , singkat,waspada thd lift

4. melakukan penilaian kesiapan tranportasi pasien ke ruang rawat dengan memastikan score anastesi 7-8

5. Mengatur posisi sesuai dengan jenis anasthesie dan tingkat kesadaran :

  • General Anestesi (GA) sadar : posisi kepala 300 kepala miring kiri pada orang dewasa, kepala 300 kepala miring kanan pada bayi

  • GA tidak sadar : ekstensi kepala tanpa bantal miring kiri
  • GA sadar : posisi supine kepala sejajar dengan tubuh

  • Block Spinal Anestesi (BSA) : posisi “V” (tinggi kepala dan lutut kaki posisi sejajar)

6. Melakukan observasi ketat pada 3 jam pertama dan selanjutnya berkala sesuai dengan jenis pembedahan dan tingkat kesadaran meliputi jalan nafas,ventilasi/oksigenasi,sirkulasi,Keadaan umum, vomitus,drainase,balance cairan,kenyamanan dan resiko injuri

7. melakukan pemantauan dan analisa terhadap keadaan pre dan intra operatif seperti Kondisi patologis, jumlah perdarahan intra operatif, pemberian tranfusi selama operasai,jumlah dan jenis terapi cairan selama operasi komplikasi selama pembedahan.

8. Memantau setiap perubahan kondisi pasien dan mengambil langkah-langkah yang tepat pada kondisi kritis/darurat

9. Memantau intake dan output

10. Melaksanakan tindakan delegatif

11. melakukan managemen perawatan post operatif di bangsal perawatan meliputi:

Ø monitor tanda vital,Keadaan umum,drainase,tube/selang,komplikasi

Ø manajemen luka(perdarahan abnormal,jahitan, discharge,prawatan luka,peingangkatan jahitan dengan tehnik aseptik

Ø manajemen gizi,Jumlah dan jenis sesuai kebutuhan/indikasi berdasarkan lokasi dan jenis operasi serta toleransi pencernaan

Ø mobilisasi dini (ROM,nafas dalam batuk efektif)

Ø Personal hygiene

Ø Mengkaji tingkat nyeri (skala Wong – Bakers,skala 0-10)

Ø Melakukan tindakan manajemen nyeri (distraksi, relaksasi, stimulasi,progesif relaksasi,,imajinasi,dll)

Ø Rehabilitasi (latihan spesifik untuk memaksimalkan kondisi)

Ø Discharge planning(home care preparation,client and family education,psikososial preparation,healt care resources

12. melakukan pemantauan terhadap kejadian ILO serta pelaporannya

13. Memberikan informasi kepada pasien / keluarga pada setiap perkembangan kondisi dan perubahan kebutuhan

14. Melakukan dokumentasi askep

1. Jenis dan kebutuhan post operasi teridentifikasi

2. Tidak terjadi komplikasi post op akibat kesalahan posisi

3. Tidak terjadi kejadian tak diinginkan akibat mobilisasi dan trnsportasi

4. observasi post operasi terpantau lengkap & tertindak lanjuti

5. Form pantau infelsi luka operasi (ILO)terisi dan terpantau serat ditindaklanjuti

6. Tidak terjadi infeksi luka operasi bersih setelah 3 x 24 jam

7. dokumentasi askep lengkap dan benar

CONTOH SPO

PEMASANGAN INFUS

Logo RS

No Dokumentasi

No revisi

Halaman

1 / 2

STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN

Tanggal berlaku

Ditetapkan di : Denpasar

Direktur utama

Pengertian

Memasukkan cairan/obat langsung ke dalam vena dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang lama dengan menggunakan infuse set.

Tujuan

1. Sebagai tindakan pengobatan

2. Mencukupi kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit

3. Sebagai emergensi line

Kebijakan

1.Ada program terapi dokter dan pendelegasian jelas secara tertulis

2.Dalam keadaan emergensi P/B boleh memasang infus tanpa intruksi dokter untuk cairan fisiologis, dalam 1 x24 jam dimintakan instruksi tertulis

3. Dalam 3 x 24 jam abocath / IV line wajib diganti, atau bila terjadi plebitis

4. Infus wajib dirawat tiap hari

5. Kegagalan pemasangan infus lebih dari 2 kali wajib ganti operator.

Persiapan

1. Standar infus ;1buah

2. Abocath sesuai kebutuhan(jenis, ukuran dan jumlah)

3. Infus set (makro/ mikro/ blood) sesuai kebutuhan

4. Pengalas;1 buah

5. Cairan yang diperlukan sesuai kebutuhan

6. Kasa steril dalam tempatnya

7. Kapas alcohol dalam tempatnya

8. Gunting 1 buah

9. Plester

10. Lidi kapas pada tempatnya

11. Bengkok 1 buah

12. Spalek(k/p)

13. Sarung tangan steril ; 1ps

14. form pantau cairan/ kitir

15. Tourniquet 1

16. CM Keperawatan

Prosedur kerja

1. Cek program therapi dokter

2. Beri salam,panggil pasien dengan namanya,kenalkan diri

3. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada pasien dan keluarga

4. Berikan kesempatan pasien untuk bertanya sebelum kegiatan dimulai

5. Sepakati lokasi pemasangan infus berdasarkan prioritas pilihan

6. Lakukan pencukuran (k/p)

7. Cuci tangan

8. Dekatkan alat ke rencana area pemasangan infus

9. Pasang pengalas

10. Periksa label infus sesuaikan program therapi

11. Hubungkan cairan infus dengan infuset

12. Isikan selang kontrol dengan cairan sampai 1/3 bagian

13. Alirkan cairan untuk pengisian selang infuset

14. Pastikan selang infuset bebas udara

15. Pakai sarung tangan

16. Pasang tourniquet untuk melakukan fiksasi

17. Palpasi dan pastikan vena yang akan di punksi

18. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan alcohol arah melingkar dari dalam keluar diameter 5 cm

19. Tusukkan abocath pada vena yang telah didesinfeksi,dengan kemiringan 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk kea rah jantung,

20. Pastikan darah tampak keluar pada pangkal mandrin, tarik mandrin ½ cm sambil dorong iv cath atau sesuai dengan petunjukk masing masing iv cath

21. Sambungkan IV cath dengan selang cairan yang telah dipersiapkan.

22. Lepaskan tourniquet

23. Buka klem infuset, alirkan cairan sampai mengalir lancar

24. Buka sarung tangan

25. Fiksasi iv cath dengan plester tanpa minutup insersi

26. Oleskan tempat insersi dengan lidi kapas alkohol

27. Tutup tempat insersi dengan kasa steril

28. Pasang spalek dan verban (k/p)

29. Atur tetesan infus sesuai program

30. Pasang form pantau cairan

31. Pasang stiker bertuliskan tgl, jam pemasangan pd tempat pemasangan infus

32. Rapikan pasien

33. Bereskan alat ( buang sampah sesuai tempatnya)

34. Tanya perasaan pasien post pemasangan

35. Jelaskan tanda tanda yang perlu diwaspadai dan dilaporkan ( nyeri, bengkak, merah dan infus tak menetes

36. Sepakati kontrak selanjutnya

37. Cuci tangan

38. Dokumentasikan tindakan meliputi tgl, jam,jenis cairan,tetesan,nomor botol, paraf dan nama terang pada cm cairan dan cm perawatan sesuai ketentuan

Unit terkait

Dokter

CONTOH FORMAT STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGERTIAN

II. PENYEBAB

III. TANDA DAN GEJALA

IV. PATOFISIOLOGI

VI. PATHWAY(POHON MASALAH )

VII PEMERIKSAAN PENUNJANG

VIII PENATALAKSANAAN

VII. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

2. RENCANA KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan & Masalah Kolaboratif

Rencana keperawatan

Tujuan / Kriteria

Intervensi





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar