Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman

16 September 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ATHEROSCLEROSIS


A.    Konsep Dasar Penyakit

                         I.      Definisi

Atherosclerosis (ath"er-o-skleh-RO'sis) berasal dari bahasa Yunani: athero (yang berarti bubur atau pasta) dan sklerosis (pengerasan). Hal ini merupakan nama dari proses dimana deposit substansi lemak, kolesterol, produk sampah seluler, kalsium dan berbagai substansi lainnya terbentuk dalam lapisan dalam dari arteri. Pertumbuhan ini disebut dengan plak. Hal ini biasanya mempengaruhi arteri ukuran sedang dan besar. Beberapa pengerasan dari arteri biasanya terjadi ketika orang mulai tua.
Aterosklerosis merupakan proses yang berbeda yang menyerang tunika intima arteri besar dan medium. Proses tersebut meliputi penimbunan lemak, kalsium, komponen darah, karbohidrat dan jaringan fibrosa pada tunika intima arteri. Penimbunan tersebut dikenal sebagai “ateroma” atau “plak”.
Arteriosklerosis merupakan penyakit degenerative arteri besar dan menengah , yang ditandai dengan penimbunan lipid dan fibrosis.

                II.            Epidemiologi

Penyakit ini  telah dikenal di beberapa Negara, yang jumlahnya menunjukkan kenaikan dengan cepat selama 50 tahun terakhir. Pada beberapa Negara, terutama USA , insiden penyakit ini sudah mencapai puncaknya , dan sekarang mulai menurun. Akan tetapi di Inggris dan beberapa Negara Eropa , arteriosklerosis, atau paling tidak komplikasinya , terus meningkat .  Aorta dan arteri besar maupun menengah paling banyak terkena dan menyebabkan terjadinya kelainan klinis yang bermacam-macam.

             III.            Etiologi

Salah satu gambaran yang paling nyata dari ateroskerosis adalah luas perbedaan dalam beratnya dan distribusi lesi antar individu, bahkan dalam kelompok populasi yang sama . selama  berabad-abad spesialis patologi berdebat  tentang sebab-sebab arteroma. Banyak factor yang banyak meningkatkan resiko setiap individu untuk menderita arteroma yang berat atau premature, tetapi beberapa penderita tidak menunjukkan secara jelas factor resikonya.
Aterosklerotik dimulai dengan adanya kerusakan endotel, adapun penyebabnya antara lain adalah:
·         Peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida dalam dara
·         Tekanan darah yang tinggi
·         Tembakau
·         Diabetes
Dikarenakan kerusakan pada endothelium, lemak, kolesterol, platelet, sampah produk selular, kalsium dan berbagai substansi lainnya terdeposit pada dinding pembuluh darah. Hal itu dapat menstimulasi sel dinding arteri untuk memproduksi substansi lainnya yang menghasilkan pembentukannya dari sel.

Faktor-faktorRisiko:

Yang tidak dapat diubah
·         Usia
·         Jenis kelamin
·         Riwayat keluarga
·         Ras
Yang dapat diubah
Mayor
·         Peningkatan lipid serum
·         Hipertensi
·         Merokok
·         Gangguan toleransi glukosa
·         Diet tinggi lemak jenuh, kolesterol dan kalori
Minor
·         Gaya hidup yang kurang bergerak
·         Stress psikologik
·         Tipe kepribadian


             IV.            Patofisiologi

Akibat langsung aterosklerosis pada arteri meliputi penyempitan (stenosis) lumen,obstruksi oleh trombosis, aneurisma (dilatasi abnormal pembuluh darah), ulkus dan ruptur. Akibat tidak langsungnya adalah malnutrisi dan fibrosis organ yang disuplai oleh arteri yang sklerotik tersebut. Semua sel yang berfungsi aktif memerlukan suplai darah yang kaya akan nutrisi dan oksigen dan peka terhadap setiap penurunan suplai nutrisi tersebut. Bila penurunan tersebut berat dan permanen, sel-sel tersebut akan mengalami nekrosis (kematian sel akibat kekurangan aliran darah) dan diganti oleh jaringan fibrosa yang tidak memerlukan banyak nutrisi.
Aterosklerosis terutama mengenai arteri utama sepanjang percabangan arteri biasanya berbentuk bercak-bercak. Cabang arteri yang terkena biasanya pada bagian bifurkasio. Banyak teori berusaha menjelaskan mengapa dan bagaimana ateroma terbentuk. Lesi utama yaitu ateroma merupakan plak lemak dengan penutup jaringan fibrosa perlahan-lahan menutup lumen pembuluh darah. Tidak satupun teori yang secara lengkap menjelaskan patogenesisnya, namun beberapa bagian dari berbagai teori tersebut dapat dikombinasikan menjadi teori “Reaksi terhadap Cedera.”
Menurut teori ini cedera sel endotelial pembuluh darah diakibatkan oleh gaya hemodinamika berkepanjangan seperti gaya-gaya robekan dan aliran turbulensi, radiasi, bahan kimia, atau hiperlipidemia kronis terjadi pada system arteri. Cedera pada endotelium meningkatkan agregasi trombosit dan monosit pada tempat cedera. Sel otot polos akan bermigrasi dan berploriferasi sehingga terbentuklah matriks kolagen dan serabut elastis. Mungkin tidak ada penyebab atau mekanisme tunggal dalam pembentukan aterosklerosis melainkan melibatkan berbagai proses.
Secara morfologis lesi aterosklerosis terdiri atas dua jenis : bercak lemak dan plak fibrosa. Bercak lemak berwarna kuning dan halus, sedikit menonjol kedalam lumen arteri dan tersusun atas lemak dan sel-sel otot polos yang memanjang. Lesi seperti ini dapat dijumpai pada semua kelompok umur termasuk anak-anak. Belum jelas apakah bercak lemak tersebut merupakan predisposisi pembentukan plak fibrosa atau dapat menghilang lagi. Biasanya tidak menimbulkan gejala klinis.
Plak fibrosa merupakan ciri khas aterosklerosis, tersusun oleh sel otot polos, serabut kolagen, komponen plasma dan lemak. Berwarna putih sampai kuning keputihan dan menonjol dalam berbagai derajat ke lumen, sampai suatu saat tonjolan tersebut menyumbat. Plak ini terutama ditemukan di aorta abdominal, arteri koroner, poplitea dan karotis interna. Plak ini dianggap tidak reversible.
Penyempitan bertahap lumen arteri saat proses penyakit berkembang, menstimulasi perkembangan sirkulasi kolateral. “jalan pintas” pembuluh darah tersebut memungkinkan perfusi berlanjut ke jaringan di bagian atas sumbatan arteri, tetapi biasanya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya dan terjadilah iskemia. Pembuluh kolateral bisa memenuhi kebutuhan jaringan atau bisa juga tidak.
Skema patofisiologi penyakit dikaitkan dengan munculnya masalah keperawatan dapat dilihat pada lampiran.



                V.            Gejala klinis

Tanda dan gejala klinis akibat aterosklerosis tergantung pada organ atau jaringan yang terkena.. Bila mengenai otak dapat menyebabkan penyakit serebrovaskuler seperti iskemia serebral transien atau TIA dan stroke. Pada aorta dan lesi aterosklerotik pada ekstremitas juga dapat terjadi.
Bila terjadi oklusi atau sumbatan pada arteri perifer maka akan timbul gejala seperti nyeri saat aktifitas dan hilang saat istirahat (klaudisio intermiten), nyeri yang terus menerus (saat istirahat) dapat terjadi jika oklusi semakin berat dan terjadi iskemia kronis. Perubahan warna kulit seperti menjadi pucat atau sianosis dan pada palpasi terasa dingin.
Akibat suplai nutrisi yang kurang akan terjadi tanda-tanda hilangnya rambut, kuku rapuh, kulit kering dan bersisik, atropi dan ulserasi. Bias juga terjadi edema
bilateral atau unilateral akibat posisi ekstremitas yang terlalu lama menggantung


             VI.            Pemeriksaan fisik

a.       Angina pektrosis ( nyeri dada ) diikuti oleh :
ü  Dorongan untuk berkemih
ü  Diaphoresis
ü  Mual
ü  Dispneu
ü  Ekstremitas dingin
b.      Kaji rasa sakit untuk mengidentifikasikan angina
ü  Angina stabil; nyeri dada intermiten dengan pola  serangan yang dapat diprediksi lamanya, intensitasnya.
ü  Angina tak stabil nyeri dada tidak dapat diprediksi; dapat terjadi kapan saja, bahkan pada saat istirahat atau selama tidur. Serangan berakhir pada umumnya setelah 20 menit dan frekuensi, intensitas dan durasinya meningkat.
ü  Angina noktural; nyeri dada terjadi pada malam hari biasanya terjadi selama tidur, hal ini dapat berkurang selama duduk.
ü  Angina dekubitus; nyeri dada cepat terjadi saat berbaring dan berkurang ketika duduk.
ü  Angina prinzmetal;nyeri dada terjadi pada saat istirahat de ngan serangan tiba-tiba

c.       Kaji nyeri dada sehubungan dengan:
ü  Factor – factor pencetus pada pasien, apa yang mencetuskan timbulnya nyeri  yang sedang akan dikerjakan sebelum nyeri mulai terjadi ( missal;merokok, aktifitas berlebihan, makanan berat yang berlebihan , stress emosional , aktifitas seksual dan minuman terlalu dingin )
ü  Kualitas sakitnya bagaimana ( seperi rasa terbakar , perasaan tertekan atau tercekik)
ü  Lokasi nyeri: terjadi pada substernal atau pada dada mid anterior dan sekitar leher, rahang, tulang belikat atau lengan kiri bawah.
ü  Hebatnya serangan : ringan ,sedang atau berat.
ü  Waktu; lamanya sakit, frekuensinya.
ü  Yang khas pada serangan : mengepalkan tangan di atas dada atau menggosok lengan kiri. Serangn nyeri terjadi perlahan – lahan atau tiba- tiba selama 15 menit atau lebih.
ü  Kaji perasaan klien tentang kondisi dan pengaruh yang dirasakan dari gaya hidupnya.


          VII.            Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis aterosklerosis:
·         ABI (ankle-brachial index), dilakukan pengukuran tekanan darah di  pergelangan kaki dan lengan
·         Pemeriksaan Doppler di daerah yang terkena
·         Skening ultrasonik Duplex
·         CT scan di daerah yang terkena
·         Arteriografi resonansi magnetik
·         Arteriografi di daerah yang terkena
·         IVUS (intravascular ultrasound).






       VIII.            Penatalaksanaan

Penatalaksanaan aterosklerosis secara tradisional tergantung pada modifikasi faktor risiko, obat-obatan dan prosedur bedah tandur (penggabungan dua pembuluh darah yang masih memiliki aliran bagus). Pemberian obat-obatan untuk menurunkan kadar lemak darah disertai modifikasi diet dan latihan. Jenis obat yang digunakan antara lain : sekuestran asam empedu (kolestiramin atau kolestipol), asam nitrotinat, statin lovastatin, mavastin dan simpastatin), asam fibrat (gemfibrosil) dan terapi penggantian estrogen.
Prosedur bedah tandur dilakukan berdasarkan pada angiogram yang dapat memperlihatkan tingkat obstruksinya. Prosedur bedah vaskuler dibagi menjadi 2 kelompok yaitu inflow yang menyuplai darah dari aorta ke arteri femoralis, dan prosedur outflow yang menyuplai darah ke pembuluh di bawah arteri femoralis.
Bila obstruksi terletak setinggi aorta atau arteri iliaka, diperlukan inflow darah yang baru. Prosedur bedah pilihan adalah tandur aorta bi iliaka. Bila mungkin anastomosis bagian distalnya disambungkan pada arteri iliaka, sehingga seluruh prosedur pembedahan dapat dikerjakan seluruhnya dalam abdomen. Namun bila arteri iliaka mengalami penyumbatan atau aneurisma, anastomosis distalnya harus disambungkan ke arteri femoralis (aorta bifemoral). Bila dilakukan inflow pada pasien namun kondisi pasien tersebut tidak memungkinkan untuk pembedahan abdomen, yang dapat menyebabkan berbagai variasi tekanan darah dan memerlukan waktu pembedahan yang lama, maka dapat dilakukan prosedur inflow dari arteri aksilaris ke arteri femoralis.
Kedua arteri aksilaris dapat dipakai untuk inflow. Hal ini penting karena kebanyakan pasien tersebut juga mengalami penyumbatan pembuluh darah seperti gagal ginjal kronis yang memerlukan cuci darah. Misalnya, bila digunakan arteri aksilaris kanan, maka dapat disambungkan ke tandur yang disambungkan ke arteri femoralis kiri (bila arteri femoralis ini adekuat) untuk menyuplai kedua tungkai. Jadi pasien menerima tandur aksiler-femoral dari kanan ke kiri. Apabila kedua sisi memerlukan darah, maka tandur aksiler-bifemoral lebih diutamakan.
Apabila penyumbatan aterosklerosis terletak di bawah ligamen inguinalis di arteri femoralis superfisialis, pembedahan pilihannya adalah tandur femoral popliteal. Bila anastomosis distal dilakukan di atas lutut mungkin perlu dipakai bahan prostetis untuk tandur. Namun bila anastomosis distalnya di bawah lutut, yang diperlukan adalah tandur vena safena agar tetap paten.
Pembuluh darah yang tersumbat di daerah tungkai bawah dan pergelangan kaki juga memerlukan tandur. Terkadang seluruh arteri poplitea tersumbat dan hanya terdapat sirkulasi kolateral. Oleh sebab itu tandur dibuat dari femoral ke arteri tibialis atau arteri peroneal. Tandur memerlukan vena asli agar tetap paten. Vena asli adalah vena autolog, biasanya vena safena magna atau parva atau kombinasi keduanya untuk memperoleh panjang yang diperlukan. Kepatenan tandur ditentukan oleh berbagai hal mencakup ukuran tandur, lokasi tandur, dan terjadinya hiperplasi lapisan intima pada tempat anastomosis.
Berbagai teknik sinar X terbukti sebagai terapi yang dianjurkan pada prosedur pembedahan. Angioplasti laser adalah teknik dimana gelombang cahaya yang kuat disalurkan malalui kateter serat optic. Gelombang laser akan memanaskan ujung kateter perkutan dan menguapkan plak aterosklerosis. Alat artektomi rotasional dapat mengangkat lesi dengan mengabrasi plak yang telah menyumbat arteri secara total. Kelebihan laser, angioplasty dan artektomi adalah waktu untuk dirawat di rumah sakit menjadi singkat



B.   Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

Data yang harus dikaji pada pasien yang mengalami aterosklerosis atau   arteriosklerosis  sangat tergantung pada lokasi yang terkena. Bila pembuluh darah koroner yang terkena maka tanda dan gejala klinisnya sesuai dengan tanda dan gejala klinis angina pectoris atau infark miokard akut. Bila otak yang terkena maka tanda dan gejala klinis yang dikaji sesuai dengan kasus stroke. Penyakit angina pectoris, infark miokard dan stroke akan dibahas tersendiri. Pengkajian keperawatan yang akan kami fokuskan disini adalah gangguan perfusi perifer selain yang mengenai organ tersebut di atas.
Data subyektif yang mungkin didapat : nyeri mendadak atau dirasakan pilu, kram, kelelahan atau kelemahan. Nyeri istirahat bersifat menetap, ngilu, dan tidak nyaman dan biasanya terjadi di bagian distal ekstremitas. Perasaan dingin atau baal pada ekstremitas terjadi akibat penurunan aliran arteri. Kaji pula tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan penyakitnya.
Data obyektif yang mungkin didapat : ekstremitas yang terkena akan tampak pucat saat ditinggikan dan sianosis saat tergantung. Warna dan suhu ekstremitas dicatat. Perubahan kulit dan kuku, ulkus, gangren dan atropi otot bisa tampak jelas. Kuku mungkin menebal dan keruh, kulit mengkilap, atropi dan kering disertai pertumbuhan rambut yang jarang. Denyut nadi perifer dapat melemah atau hilang sama sekali.

2.      Diagnosa keperawatan
a.       Bila mengenai jaringan perifer ;
1)      Gangguan perfusi jaringan perifer b.d gangguan sirkulasi.
2)      Nyeri b,d gangguan kemampuan pembuluh darah menyuplai oksigen ke   jaringan.
b.      Bila dilakukan tindakan pembedahan
Ø    Pra Bedah :
3)      Ansietas b.d rencana pembedahakan yang kompleks.
Ø    Post Bedah :
4)      Nyeri akut b.d terpotongnya saraf akibat luka operasi.
5)      Risiko infeksi b.d adanya port de entry (luka operasi)
6)      Risiko kerusakan integritas kulit b.d luka operasi.
c.       Bila dianjurkan modifikasi gaya hidup :
7)    Kurang Pengetahuan tentang modifikasi gaya hidup b.d kurang informasi.
                                   

3.      Rencana Tindakan keperawatan
Dx 1: Gangguan perfusi jaringan perifer b.d gangguan sirkulasi.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien menunjukan perbaikan perfusi dengan criteria hasil: adanya nadi perifer / sama, warna kulit dan suhu normal,peningkatan perilaku yang meningkatkan perfusi jaringan.
Intervensi
Rasional
Observasi warna kulit bagian yang sakit.
Warna kulit khas terjadi pada saat sianosis , kulit dingin. Selama perubahan warna, bagian yang sakit menjadi dingin kemudian berdenyut dan sensasi kesemutan.
Catat penurunan nadi ; perubahan trafik kulit(tak berwarna, mengkilat/tegang).
Perubahan ini menunjukkan kemajuan atau proses kronis.
Lihat dan kaji kulit untuk ulserasi, lesi, area gangren.
Lesi dapat terjadi dari ukuran jarum peniti sampai melibatkan seluruh ujung jari dan dapat mengakibatkan infeksi atau kerusakan/kehilangan jaringan serius.
Dorong nutrisi dan vitamin yang tepat.
Keseimbangan diet yang baik meliputi protein dan hidrasi adekuat, perlu untuk penyembuhan.
Pantau tanda-tanda kecukupan perfusi jaringan.
Untuk mengetahui tanda-tanda dini dari gangguan perfusi.
Dorong pasien melakukan latihan jalan atau latihan ekstremitas bertahap.
Untuk melancarkan sirkulasi.


Dx2: Nyeri b,d gangguan kemampuan pembuluh darah menyuplai oksigen ke jaringan.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang dengan criteria hasil pasien menyatakan nyeri dada hilang atau terkontrol , pasien tidak tampak meringis, mendemonstrasikan teknik relaksasi.
Intervensi
Rasional
Monitor karakteristik nyeri melalui respon verbal dan hemodinamik (menangis, kesakitan, meringis, tidak bisa istirahat, irama pernafasan, tekanan darah dan perubahan heat rate).
Masing-masing pasien mempunyai respon yang berbeda terhadap nyeri, perubahan respon verbal dan hemodinamik dapat mendeteksi adanya perubahan kenyamanan.
Kaji adanya gambaran nyeri yang dialami pasien meliputi : tempatnya, intensitas, durasi, kualitas dan penyebarannya.
Nyeri merupakan perasaan subyektif yang dialami dan digambarkaan sendiri oleh pasien dan harus dibandingkan dengan gejala penyakit lain sehingga didapatkan data yang akurat.
lingkungan yang nyaman, kurangi aktivitas, batasi pengunjung
Membantu mengurangi rangsangan dari luar yang dapat menambah ketenangan sehingga pasien dapat beristirahat dengan tenang dan daya kerja jantung tidak terlalu keras.
Ajarkan teknik relaksasi dengan menarik nafas panjang
Membantu mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien secara psikologis dimana dapat mengalihkan perhatian pasien sehingga tidak terfokus pada nyeri yang dialami.
Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat narkotik
Obat jenis narkotik dapat menyebabkan depresi pernafasan dan hipotensi


Dx 3 Ansietas b.d rencana pembedahakan yang kompleks.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kecemasan hilang atau berkurang dengan criteria hasil pasien dapat mengenal perasaannya ,dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang memengaruhinya, menyatakan cemas berkurang.
Intervensi
Rasional
Kaji dan pantau tanda ansietas yang terjadi
Untuk mengetahui intensitas nyeri

Jelaskan prosedur pembedahan secara sederhana sesuai tingkat pemahaman pasien.

Untuk mengurangi tingkat ansietas

Diskusikan ketegangan dan harapan pasien
Untuk mendorong dan menambah semangat pasien    
Dorong keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperi sebelumnya
Meyakinkan pasien bahwa peran dan kerja tidak berubah
Beritahu pasien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan atau membatasi serangan akan dating dan meningkatkan stabilitas jantung
Mendorong pasien untuk mengontrol tes gejala, untuk meningkatkan kepercayaan pada program medis dan mengintegrasikan kemampuan dalam persepsi diri
Kolaborasi pemberian sedative, tranquilizer, sesuai indikasi
Mungkin diperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat strategi koping adekuat


Dx 4. Nyeri akut b.d terpotongnya saraf akibat luka operasi.
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri dapat teratasi, dengan criteria hasil : [aien mengatakan nyerinya berkurang, pasien tampak rileks, skala nyeri 0
Intervensi
Rasional
Dorong pasien untuk melaporkan tipe, lokasi, fdan intensitas nyeri, rentang skala 0-10
Nyeri dirasakan , dimanifestasikan, dan ditoleransi secara individual
Observasi cemas, mudah terangsang, menangis, gelisah, gangguan tidur
Petunjuk non verbal dapat mengidentifikasikan adanya derajat nyeri yang dialami
Pantau tanda-tanda vital
Dapat mengindikasikan rasa sakiy akut dan tidaknyaman
Identifikasi atau tingkatkan posisi nyaman menggunakan alat bantu bila perlu
Bantal atau gulungan selimut berguna untuk menyokong ekstremitas, mempertahankan postur tubuh, dan penahan insisi untuk menurunkan tegangan otot atau meningkatkan kenyamanan
Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung dan perubahan posisi
Dapat meningkatkan relaksasi


Dx. 5 Risiko infeksi b.d adanya port de entry (luka operasi)
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi tanda-tanda infeksi, dengan criteria hasil tidak ada kalor, dolor, rubor, tumor, fungsiolaesia, ttv dalam batas normal
Intervensi
Rasional
Kaji dan pantau tanda-tanda infeksi
Untuk mengetahui perkembangan infeksi
Jelaskan hal-hal yang harus dihindari agar luka tidak infeksi
Untuk menghindari terjadinya infeksi lebih lanjut.
Rawat luka dengan teknik sepsis dan asepsis
Mencegah kontaminasi 
Kolaborasi pemberian antibiotik
Untuk mencegah infeksi
Tunjukkan atau dorong yeknik mencuci tangan yang baik dan benar
Efektif untuk menurunkan penyebaran infeksi



Dx.6 Risiko kerusakan integritas kulit b.d luka operasi.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteri hasil : menunjukkan penyembuhan luka tepat waktu
Intervensi
Rasional
Lihat semua insisi. Evaluasi proses penyembuhan. Kaji ulang harapan terhadap penyembuhan dengan pasien
Penyembuhan mulai dengan segera, tetapi penyembuhan lengkap memerlukan waktu.
Perhatikan atau laporkan pada dokter : insisi yang tidak sembuh; pembukaan kembali insisi yang telah sembuh, adanya drainase, area local yang bengkak dengan kemerahan, rasa nyeri meningkat dan panas pada sentuhan
Tanda atau gejala yang menandakan kegagalan penyembuhan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi atau intervensi lanjut
Tingkatkan nutrisi dan masukkan cairan adekuat
Membantu untuk mempertahankan volume sirkulasi yang baik untuk perfusi jaringan dan memenuhi kebutuhan energy seluler untuk memudahkan proses regenerasi atau penyembuhan jaringan


Dx 7: Kurang Pengetahuan tentang modifikasi gaya hidup b.d kurang informasi.
Setelah diberikan asuhan keperawaan diharapkan pasien menyaakan pemahaman penyakinya, rencana pengobaan, ujuan pengobatan dan efek samping pengobatan.
Criteria hasil :  pasien menyebutkan gejala yang memerlukan perhatian cepat mampu mengidentifikasi perubahan pola hidup yang perlu.
Intervensi
Rasional
Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.

Kesalahan konsep dan menyangkal konsep karena perasaan sejahtera yang sudah lama diminati mempengaruhi minat pasien atau orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis.

Tetapkan dan nyatakan tekanan darah normal. Jelaskan tentang hipertensi dan efek penyakitnya pada pembuluh darah, ginjal dan mata ( pada organ tubuh lainnya ).

: memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasi istilah medis yang sering di gunakan. Pemahaman tentang penyakitnya memungkinkan pasien untuk melanjutkan pengobatan meskipun ketika masih sehat.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang dapat di ubah, misal : Obesitas, merokok, pola hidup monoton.
Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang timbulnya arteriosklorosis
Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi cara di mana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor-faktor di atas.

Faktor-faktor resiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala. Dengan mengubah pola prilaku yang biasa atau memberikan rasa aman dapat sangat menyusahkan, dukungan, petunjuk dan empati dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini.
Anjurkan pasien untuk memantau respon fisiologi sendiri terhadap aktivitas, laporkan penurunan toleransi terhadap aktivitas.
keterlibatan pasien dalam memantau toleransi aktivitasnya sendiri penting untuk keamanan dan atau memodifikasi aktivitas kehidupan sehari-hari.

                                            


4.      Evaluasi
                        Evaluasi dari diagnosa diatas antara lain :
a.       Suplai darah arteri ke akstremitas meningkat (teraba hangat, warna kemerahan/tidak pucat)
b.      Nyeri pasien berkurang, skala nyeri 1-3
c.       Ansietas pasien berkurang
d.      Klien mengatakan nyerinya berkurang, pasien tampak rileks, skala nyeri 0
e.       Tidak terjadi tanda-tanda infeksi, seperti tidak ada kalor, dolor, rubor, tumor, fungsiolaesia, ttv dalam batas normal
f.    Tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
g.   Pasien sudah dapat memahami tentang penyakitnya.



DAFTAR PUSTAKA

Brooker, C. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Edisi 31. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Textbook of Pathophysiology. 6th ed. Jakarta : EGC.
R Syamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. –ed.2.-.
Jakarta : EGC.
Taggarat, David P. 2007. Coronary Revascularition. 334:593-594.
Lipkin, David. 2003. Finding the Age Patient’s Heart. 326:1045-1046.
Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar